Jarak Neraka ke Surga…?

Kartika
Model: Kartika Waode

Berapa jarak neraka ke surga?

Setengah inci cuma….

Menurut sistem Lobachevskii
Jarak adalah garis lengkung kurva bibirnya.
.
Jika saya definisikan ‘jarak’ menurut sistem Lobachevskii , sungguh jarak neraka ke Surga itu begitu dekat, hanya dengan melihat indah bibirmu !!!

***

Kendari 040117

…Akhirnya MOHABBATEIN

Meski saya banyak membaca tentang hukum, dan banyak berbuat dan bertindak mengadvokasi sewaktu masih di lingkungan aktivis dulu, saya tak bisa disebut sebagai pakar hukum. Saya hanya berpengetahuan hukum tapi tak berilmu tentang itu.

Untuk urusan Hukum, pasti dan jelas saya selalu melata dihadapmu duhai Istriku Fitria Musrady Zaini. Sepenuh-penuhnya saya serahkan padamu.

Tetapi malam ini saya masih mau nonton Berita, kamu mau nonton sinetron Filipina Pangako Sa’Yo. Saya ganti ke chanel Komedi, eh kamu milih nonton De academi asia. Saya nonton siaran olahraga kamu malah nonton seputar fashion.

Saya ngotot, eh kau tuntut saya dengan pasal-pasal perbuatan tidak menyenangkan karena berbuat jahat terhadap kemerdekaan orang.

***

Saya : “Pasal berapa itu?” Tanyaku padanya.

Dia   : Pasal 335 KUHP, jawabnya singkat

Saya : Apa bunyinya itu?

Dia   : “Diancam dengan pidana penjara paling lama satau tahun atau denda paling      banyak tiga ratus rupiah, “Barangsiapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri atau orang lain. ”

Saya  : …/////?/?/?/

***

Ya, terpaksa mengalah lagi. Akhirnya kami bersama nonton Mohabbatein !!!!

😀 : D 😀

 

Advokat Fitri
Ini nih Mantan Pacar Saya Saat Pakai Baju Kebeserannya. He he.

Martabak versus Makassar Baklave

CARA mereka memaknai hidup adalah hanya dengan mempertahankan diri. Dan cara tempuhnya adalah dengan begadang dalam berdagang.

Buka sejak senja hingga matahari membuka mata, dilakoni oleh beberapa pemuda ini. Menjajahkan terang Bulan dan martabak adalah profesi yang bisa dibilang menantang zaman, seiring berubahnya selera lidah manusia. Mereka dituntut lebih adaptif untuk memainkan pisau dan alat gorengnya, ditambah sedikit improvisasi racikan rasa dan rempah pada jualannya.

Jika tidak Makassar Baklava akan menggusur mereka, dan lapakannya. Dimana sebenarnya tak ada beda antara Martabak dan Makassar Baklave.

Orang rela mengantri hanya untuk mengantongi Makassar Baklave ketimbang martabak. Mengapa?

Disini, saya menantang mereka untuk beradaptasi, sebagaimana apa yang dikata Darwin yang bisa survive di muka bumi ini bukanlah orang-orang yang kuat melainkan adalah orang-orang yang adaptif.

Selamat bekerja, penjajah Martabak. Beradaptasilah!!!

 

Penjual Martabak Kendari
Penjual Martabak di Salah Satu Kota Kendari

BAHASA

Suatu ketika bahasa lah yang memperumit kita. Dulu ada orang bijak berkata batas duniamu adalah batas bahasamu.

Namun itu kemudian jadi rumit, ketika BAHASA diperhadapkan dalam proses pemaknaan. Kita tentu pernah menghadapi masalah-masalah bahasa. Alih-alih bisa menjembatani sebuah perbedaan malah terkadang bisa memperburuk keadaan. Karena pemahaman seseorang tidaklah sama dalam memahami sebuah objek bahasa.

Kita pernah ribut lewat percakapan telpon, atau malah ribut mengartikan sebuah tagline reklame, dan pada akhirnya kita kembali merenung apatah artinya sebuah bahasa?

Bahasa bukan lagi ucapan, tindakan, perkataan, pemikiran yang dilisankan. Melainkan struktur yang termanipulasi oleh subyeknya sendiri, lalu menjadi seperti air bah yang meluap, mengalir tiada batas.

Karena tak ada standar bahasa dalam pemaknaan, segalanya selalu kan berbias.

Yang paling besar adalah gaung 212, atau 313, yang sekiranya adalah masalah bahasa.

Sungguh adakah solusi dari sebuah bahasa, atau lebih baik memilih membisu dengan sebuah isyarat yang begitu jujur memaknai sesuatu.

Itu pernah terjadi, ketika kita sedang tak beradab, justru di massa itu mereka tenang menenangkan, ketimbang sekarang berperadaban tetapi hidup penuh kesebalan.

Apalagi ketika struktur kuasa tampil sebagai penerjemah dan media sebagai pengalih bahasa, sungguh bahasa begitu kacaunya.

Selesai.

 

 

 

Kendari 3103217

<img src="http://path-mkgapi.kakao.com/dn/path_classic/moment_photos/bda8dd9e-6aef-4431-86e4-77fd34cef962/original.jpg" />
Einstein Tentang Hakekat Ilmu 

BARANGKALI terciptanya pagi bukan hanya sebuah penanda bahwa hari telah dimulai , tetapi lebih kedalam agar manusia memahami penciptanya.

Proses memahami bukanlah hanya sebuah penanda bahasa akan halnya paham yang diubah menjadi kata kerja ‘memahami’ melainkan adalah sebuah ritual yang melibatkan akal dan juga hati.

Memahami bukanlah mengerti, tetapi lebih kepada hidup dalam objek yang dicari, dengan begitu kita lebih tenggelam dan menyatu lalu akhirnya lahirlah ilmu dan pengetahuan.

Tetapi Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita?
https://sosiocritica.wordpress.com/2014/10/19/einsten-tentang-hakekat-ilmu/
Selengkapnya
View on Path

Menger-tilah arti Sahabat

Saat seorang sahabat melakukan hal yang tidak berkenan di hatimu sekalipun, dia tetaplah sahabat.

Petuah itu terukir di sayap sebuah patung burung emas, patung itu dibuat oleh Genghis Khan seorang raja kharismatik asal Mongol, asia utara. Patung itu dibuatnya untuk menyesali perbuatannya atas kesalahannya membunuh sahabatnya yang seekor burung rajawali.

Namun itulah yang mesti dibayar Genghis khan untuk memaknai sebuah tindakan, dan itulah rerata sikap manusia, kita baru sadar akan pentingnya sesuatu ketika sesuatu itu tak ada lagi dan pergi.

Melalui Genghis khan kita mencoba memaknai sejatinya arti sahabat.

***

Suatu pagi, sang pejuang Mongol, Genghis Khan, pergi berburu bersama para pengiringnya. Para pengiringnya membawa busur dan anak-anak panah, tetapi Genghis Khan membawa burung rajawali kesayangannya yang bertengger di lengannya; burung ini lebih dahsyat daripada anak-anak panah mana pun, sebab dia bisa terbang ke awan-awan dan melihat semua yang tak bisa dilihat mata manusia.

Akan tetapi rombongan itu tidak memperoleh hasi apa pun, meski mereka sudah berupaya keras. Dengan kecewa Genghis Khan kembali ke perkemahannya, dan supaya para pengiringnya tidak menjadi sasaran pelampiasan kekesalannya, dia pun meninggalkan mereka dan pergi berkuda seorang diri. Dia berkuda di hutan lebih lama dari pada yang diperkirakan, dan Genghis Khan merasa sangat letih dan haus. Dalam hawa terik musim panas, semua mata air telah kering dan dia tidak bisa menemukan air minum. Maka betapa herannya dia ketika melihat ada air menetes-netes dari bebatuan karang persis di hadapannya.

Genghis Khan
Ilustrasi

Dia pun melepaskan si burung rajawali dari lengannya dan mengeluarkan cangkir perak yang selalu dibawa-bawanya. Lama kemudian barulah cangkir itu terisi, namun ketika dia bermaksud mendekatkan cangkir itu ke bibirnya, si burung rajawali terbang mendekat, mematuk cangkir itu dari kedua tangannya, dan membuangnya ke tanah.

Genghis Khan sangat murka, tetapi burung rajawali adalah kesayangannya, dan barangkali burung itu pun merasa haus. Maka dipungutnya kembali cangkir itu, dibersihkannya dari tanah, dan diisinya lagi dengan air. Ketika cangkir itu masih setengah kosong, si burung rajawali lagi-lagi menyerangnya dan menumpahkan airnya.

Genghis Khan sangat menyayangi burung ini, tetapi dia tahu bahwa dalam situasi apa pun dia tidak boleh membiarkan perilaku tidak hormat semacam itu; kalau ada seseorang yang mengamati kejadian ini dari jauh, mungkin orang ini akan menceritakan kepada para prajuritnya bahwa sang penakluk yang hebat itu ternyata tidak mampu menjinakkan seekor burung sekalipun.

Maka kali ini Genghis Khan menghunus pedangnya, mengambil cangkir itu, dan mengisinya kembali, satu matanya tertuju pada air yang menetes-netes dan satunya lagi pada si burung rajawali. Setelah cangkirnya cukup banyak terisi air dan dia sudah siap meminumnya, si burung rajawali lagi-lagi melesat terbang ke arahnya. Dengan satu tusukan, pedang Genghis Khan menancap di dada burung itu.

Air sudah tidak menetes-netes lagi; Genghis Khan, yang kini bertekad untuk memuaskan dahaganya, mendaki bebatuan karang itu untuk mencari mata air tersebut. Betapa kagetnya dia ketika melihat bahwa memang benar ada genangan air di sana, dan di tengah-tengahnya tergeletak bangkai salah seekor ular paling berbisa di daerah tersebut. Seandainya tadi air itu diminumnya, dia pasti sudah mati.

Genghis Khan kembali ke perkemahannya dengan burung rajawali yang sudah mati itu dalam pelukannya. Dia memerintahkan supaya dibuatkan patung emas burung itu, dan di salah satu sayapnya dia mengukirkan kata-kata berikut ini:

“Saat seorang sahabat melakukan hal yang tidak berkenan di hatimu sekalipun, dia tetaplah sahabatmu.”

 

Dan di sayap satunya lagi, dia mengukirkan kata-kata berikut ini:

“Tindakan apa pun yang dilakukan dalam angkara murka hanya akan membuahkan kegagalan.”

 

Ku Suka Dangdut Ku Suka La Fildan

Suaranya bertempo lembut, tetapi ia tahu jalan tuk masuk menusuk tepat ke hati, berat namun halus. Itulah ciri khas suara seorang Fildan. Pria berasal dari Baubau ini bukanlah berdarah India, tapi ia memberi penanda bahwa ialah representatif pelantun lagu India di Indonesia.

***

Sepertinya musik dangdut telah kembali ke negrinya.

Kenapa? Beberapa dekade setelah pensiunnya Mansyur S, Meggi Z, Imam S. Arifin musik dangdut hanyalah tinggal lantunan tanpa makna, meski mungkin di improvisasi dengan aransement yang indah. Tetap saja tanpa makna. Goyangnya aja yang di dapat.

Padahal musik sebenarnya adalah salah satu tempat manusia kembali memaknai kediriannya, sebab musik adalah filsafat yang berima. Musik memberi warna untuk setiap kehidupan, tanpa musik dunia gelap seperti tanpa gemintang, seperti laut tanpa ombak, dan seperti hujan tanpa petir.

Dangdut sebenarnya telah dialienasi oleh pelantunnya sendiri, hanya saja saya tak mampu mewakilkan siapa pemulanya. Namun itu bisa dilihat dari ciri lantunannya, seperti ini: pinggul digoyang erotis, rambut di keramas mesra, busana seperti aih, dan suara tanpa cengkok-cengkok begitu-an deh.

Lalu kemudian muncul La Fildan ini, yang katanya dari Baubau.

Saya bilang, ini sebenarnya musik dangdut. Dan musik dangdut telah kembali hidup di negerinya. Indonesia bangat. La Fildan ini telah kembali membawa dangdut melalui petikan gitar dan suara merdunya.

fildan-iis
Fildan Baubau dan Iis Dahlia

Kiranya, tidak berlebihan jika saya gelari ia Pangeran Dangdut yang selama ini tak pernah ada yang menyandangnya (yang ngaku banyak). Cirinya kan sudah terlampir, mahir bergitar dan fasih berdangdut.

Juara atau tidak, La Fildan ini pasti menjadi Pangeran dangdut, meski hanya di hati kecilku dan mungkin di hati besar Iis Dahlia.

Trimakasih La Fildan, kau bangkitkan lagi hasrat berdangdut ku. Setelah lama tak pulang.

Da re ra, re ra….re ra……re ra…..

Belajar Cinta dari Awan

Kehidupan cinta sangatlah sulit di kisahkan, namun begitu; cinta dapat dimaknai oleh orang-orang yang betul mengerti akan cinta. Olehnya di tangan pencinta, cinta itu akan mendapat tempat yang indah dan kan hidup abadi.

Sang pencinta memaknai bahwa cinta adalah bentuk pengorbanan untuk meresapi sari pati cinta, itu sejatinya. Cinta dimaknai sebagai bentuk kepasrahan, dan tinggal di dalam keheningan. Di dalam keheningan itulah kita dapat menemukan cinta sesejatinya. Seperti kata Hafizh “Aku pikir kita datang, untuk berpasrah diri di dalam keheningan, untuk berserah pada cahaya dan kebahagiaan, untuk berdansa dalam batin dalam perayaan kejayaan cinta.”

Seperti itulah halnya cinta, hadir untuk sebuah pengorbanan. Alkisah, hiduplah awan muda di langit-langit eksotiknya benua afrika.

Suatu ketika, segumpal awan muda lahir di tengah badai dahsyat di atas Laut Tengah, namun dia tak sempat bertumbuh disana, sebab embusan angin kencang mendorong semua awan menuju Afrika.

Setibanya di benua itu, iklimnya berubah. Matahari bersinar terang di langit, dan di bawah mereka terbentang gurun pasir Sahara yang keemasan. Karena di padang gurun hampir tak pernah turun hujan, angin pun terus mendorong awan-awan itu ke arah hutan-hutan di selatan.

Sementara itu, sebagaimana manusia-manusia yang masih muda, awan muda itu memutuskan untuk meninggalkan orang tuanya serta teman-temannya yang lebih dewasa, sebab dia ingin menjelajahi dunia.

“Apa-apan ini?” angin berseru. “Gurun pasir itu sama saja di mana pun. Bergabunglah lagi dengan awan-awan lainnya, dan kita akan ke Afrika Tengah. Disana ada pegunungan dan pohon-pohon yang sungguh menakjubkan.”

Tetapi awan yang masih mudah itu mempunyai sifat pemberontak dan dia tidak mau menurut. Perlahan-lahan dia melayang semakin rendah dan semakin rendah, sampai akhirnya ditemukannya angin sepoi-sepoi yang lembut dan pemurah; angin itu membiarkannya melayang-layang di atas hamparan pasir keemasan. Setelah mondar-mandir ke sana-sini, dilihatnya salah satu bukit pasir itu tersenyum kepadanya.

Bukit pasir itu juga masih muda, baru saja terbentuk oleh angin yang bertiup melewatinya. Saat itu juga, awan itu jatuh cinta kepada rambut keemasan si bukit pasir.

“Selamat Pagi,” sapanya. “Seperti apa kehidupan di bawah sana?”

“Aku punya banyak teman bukit pasir lainnya, juga matahari dan angin, serta karavan-karavan yang sesekali melintas di sini. Kadang-kadang hawanya panas sekali, tapi masih bisa kutahankan. Seperti apa hidupmu di atas sana?”

“Disini juga ada matahari dan angin, tetapi yang menyenangkan adalah aku bisa bepergian di langit dan melihat lebih banyak.”

“Buatku, hidup ini singkat saja,” kata si bukit pasir. “Begitu angin datang lagi dari arah hutan, aku akan lenyap.”

“Apakah kau menjadi sedih?”

“Aku jadi merasa hidupku tak punya tujuan.”

“Aku juga merasa begitu. Begitu angin berhembus kembali aku akan pergi ke selatan dan diubah menjadi hujan; tetapi itu sudah suratan takdirku.”

Setelah bimbang sesaat, bukit pasir itu berujar, “Tahukah kau bahwa di padang gurun ini kami menyebut hujan sebagai surga?”

“Tak kusangka diriku bisa sepenting itu,” kata si awan dengan bangga.

“Aku pernah mendengar bukit-bukit pasir yang lebih tua menceritakan berbagai kisah tentang hujan. Kata mereka, setelah turun hujan, kami semua tertutup rerumputan dan bunga-bunga. Tapi aku tidak akan pernah mengalaminya, sebab di padang gurun jarang sekali turun hujan.”

Sekarang giliran si awan yang menjadi bimbang. Kemudian dia tersenyum lebar dan berkata, “kalau kau mau aku bisa menurunkan hujan ke atasmu sekarang juga. Memang, aku baru saja sampai di sini, tapi aku mencintaimu, dan aku ingin tetap di sini selamanya.”

“Waktu aku pertama melihatmu di langit sana, aku juga jatuh cinta padamu,” sahut si bukit pasir. “Tetapi jika kau ubah rambut putihmu yang indah itu menjadi hujan, kau akan mati.”

“Cinta tak pernah mati,” sahut awan itu. “Cinta membawa perubahan; selain itu, aku ingin menjunjukkan surga padamu.”

Dan dia pun mulai membelai bukit pasir itu dengan tetes-tetes kecil air hujan, supaya mereka bisa lebih lama bersama-sama, sampai muncul sebentuk bianglala.

Keesekon harinya, bukit pasir yang kecil itu dipenuhi bebungaan. Awan-awan lain yang melintas untuk menuju Afrika, mengira itu pastilah bagian dari hutan yang mereka cari-cari, maka mereka pun menebarkan lebih banyak hujan. Dua puluh tahun kemudian, bukit pasir itu telah berubah menjadi oase yang memberikan kesegaran kepada para musafir dengan keteduhan pohon-pohonnya.

Dan semua itu karena suatu hari sepotong awan jatuh cinta, dan tidak takut menyerahkan hidupnya demi cintanya.

 

 

Wanita Yang Berbisik

Saya baru saja menemukan seorang wanita, yang berjam-jam menahanku bercerita hanya untuk menceritakan kejelekan-kejelekan orang-orang disekitarku.

Saya tidak mengerti, saya bukanlah seorang pemegang kuasa yang mesti dicuri hatinya, atau pula seorang bijak untuk diambil petuahnya. Toh, dari hasil curhat itu saya tidak bisa me-non-job seseorang, apa lagi bisa membawa orang menuju Surga apabila menjalankan petuahku.

Sebut saja namanya A, mulailah ia menceritakan si B,C,D, E, lalu kembali lagi ke D. Sepanjang itu jika saya statistikkan modusnya adalah menceritai si C, dan mediannya adalah si E. Modus dalam statistika adalah kasus yang sering muncul, dan median itu rerata dari deretan peristiwanya.

Si B hingga E, paripurna dikupasnya. Hingga akhirnya saya terpaksa meninggalkannya karena sesuatu dan lain hal.

***

Waktu saya dibangku SMA, saya pernah memahami ‘Golden Rule’ atau aturan emas, yang poinnya perlakukanlah orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan oleh mereka.

Hukum itu menjelaskan, jika saat ini kita menceritai seseorang, kemungkinan besar dia juga sedang menceritakan kita. Semua tindakan kita, yang baik dan buruk, akan kembali kepada kita.

Ini juga sejalan dari hukum ketiga dari gerak dalam fisika murni, untuk setiap aksi, terdapat reaksi yang setara dan sebaliknya. Hukum aksi reaksi tepatnya. Semesta akan membalikkan sebesar dan sekecil apapun energi yang kita berikan.

Selain itu, hal ini juga menjadi esensi dari ‘Karma’ yang diyakini dalam filsafat transcendental. Segalanya kan berpulang kepada kita.

***

Saya belum sempat berkata kepadanya tetapi semoga saja dia membaca tulisan ini.

Berbaiklah pada diri sendiri juga orang lain, Perhatikanlah bahwa cinta dan benci itu berbalas. Hukum ini bekerja dengan jelas dan pasti seperti halnya bumi mengelilingi matahari. Terlepas dari anda menyadarinya atau tidak. Hukum itu berjalan dalam hal-hal kecil, besar, hingga perihal yang paling besar.

<img src="http://path-mkgapi.kakao.com/dn/path_classic/moment_photos/e358d410-1582-4cab-8a7f-440604b61e87/original.jpg" />
Tiga warsa yang lalu, saya duduk bersama mereka. 

Saat itu, dari kiri ke kanan adalah Ketua Umum PB HMI Puji Hartoyo, Abu Hasan, Kepala Biro Humas Setda Provinsi Sulawesi Tenggara, Abdullah Hehamahua, Penasehat KPK, dan terakhir saya sendiri sebagai manusia biasa.

Saat ini di warsa 2017 posisi itu berubah Puji Hartoyo menjadi Staf Ahli Setya Novato Ketua DPR RI sesudah menjadi komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Abu Hassan menjadi Bupati Buton Utara, Abdullah Hehamahua menjadi tim Penasehat hukum Jokowi JK, dan terakhir saya juga masih seperti ini.

Waktu berubah, manusia berubah, kita hanya mengikuti arah angin disamping selalu menyiapkan bekal abadi.

Mungkin, waktu berikutnya kan menanti. Entahlah!
View on Path