Martabak versus Makassar Baklave

CARA mereka memaknai hidup adalah hanya dengan mempertahankan diri. Dan cara tempuhnya adalah dengan begadang dalam berdagang.

Buka sejak senja hingga matahari membuka mata, dilakoni oleh beberapa pemuda ini. Menjajahkan terang Bulan dan martabak adalah profesi yang bisa dibilang menantang zaman, seiring berubahnya selera lidah manusia. Mereka dituntut lebih adaptif untuk memainkan pisau dan alat gorengnya, ditambah sedikit improvisasi racikan rasa dan rempah pada jualannya.

Jika tidak Makassar Baklava akan menggusur mereka, dan lapakannya. Dimana sebenarnya tak ada beda antara Martabak dan Makassar Baklave.

Orang rela mengantri hanya untuk mengantongi Makassar Baklave ketimbang martabak. Mengapa?

Disini, saya menantang mereka untuk beradaptasi, sebagaimana apa yang dikata Darwin yang bisa survive di muka bumi ini bukanlah orang-orang yang kuat melainkan adalah orang-orang yang adaptif.

Selamat bekerja, penjajah Martabak. Beradaptasilah!!!

 

Penjual Martabak Kendari
Penjual Martabak di Salah Satu Kota Kendari
Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s