Belajar Cinta dari Awan

Kehidupan cinta sangatlah sulit di kisahkan, namun begitu; cinta dapat dimaknai oleh orang-orang yang betul mengerti akan cinta. Olehnya di tangan pencinta, cinta itu akan mendapat tempat yang indah dan kan hidup abadi.

Sang pencinta memaknai bahwa cinta adalah bentuk pengorbanan untuk meresapi sari pati cinta, itu sejatinya. Cinta dimaknai sebagai bentuk kepasrahan, dan tinggal di dalam keheningan. Di dalam keheningan itulah kita dapat menemukan cinta sesejatinya. Seperti kata Hafizh “Aku pikir kita datang, untuk berpasrah diri di dalam keheningan, untuk berserah pada cahaya dan kebahagiaan, untuk berdansa dalam batin dalam perayaan kejayaan cinta.”

Seperti itulah halnya cinta, hadir untuk sebuah pengorbanan. Alkisah, hiduplah awan muda di langit-langit eksotiknya benua afrika.

Suatu ketika, segumpal awan muda lahir di tengah badai dahsyat di atas Laut Tengah, namun dia tak sempat bertumbuh disana, sebab embusan angin kencang mendorong semua awan menuju Afrika.

Setibanya di benua itu, iklimnya berubah. Matahari bersinar terang di langit, dan di bawah mereka terbentang gurun pasir Sahara yang keemasan. Karena di padang gurun hampir tak pernah turun hujan, angin pun terus mendorong awan-awan itu ke arah hutan-hutan di selatan.

Sementara itu, sebagaimana manusia-manusia yang masih muda, awan muda itu memutuskan untuk meninggalkan orang tuanya serta teman-temannya yang lebih dewasa, sebab dia ingin menjelajahi dunia.

“Apa-apan ini?” angin berseru. “Gurun pasir itu sama saja di mana pun. Bergabunglah lagi dengan awan-awan lainnya, dan kita akan ke Afrika Tengah. Disana ada pegunungan dan pohon-pohon yang sungguh menakjubkan.”

Tetapi awan yang masih mudah itu mempunyai sifat pemberontak dan dia tidak mau menurut. Perlahan-lahan dia melayang semakin rendah dan semakin rendah, sampai akhirnya ditemukannya angin sepoi-sepoi yang lembut dan pemurah; angin itu membiarkannya melayang-layang di atas hamparan pasir keemasan. Setelah mondar-mandir ke sana-sini, dilihatnya salah satu bukit pasir itu tersenyum kepadanya.

Bukit pasir itu juga masih muda, baru saja terbentuk oleh angin yang bertiup melewatinya. Saat itu juga, awan itu jatuh cinta kepada rambut keemasan si bukit pasir.

“Selamat Pagi,” sapanya. “Seperti apa kehidupan di bawah sana?”

“Aku punya banyak teman bukit pasir lainnya, juga matahari dan angin, serta karavan-karavan yang sesekali melintas di sini. Kadang-kadang hawanya panas sekali, tapi masih bisa kutahankan. Seperti apa hidupmu di atas sana?”

“Disini juga ada matahari dan angin, tetapi yang menyenangkan adalah aku bisa bepergian di langit dan melihat lebih banyak.”

“Buatku, hidup ini singkat saja,” kata si bukit pasir. “Begitu angin datang lagi dari arah hutan, aku akan lenyap.”

“Apakah kau menjadi sedih?”

“Aku jadi merasa hidupku tak punya tujuan.”

“Aku juga merasa begitu. Begitu angin berhembus kembali aku akan pergi ke selatan dan diubah menjadi hujan; tetapi itu sudah suratan takdirku.”

Setelah bimbang sesaat, bukit pasir itu berujar, “Tahukah kau bahwa di padang gurun ini kami menyebut hujan sebagai surga?”

“Tak kusangka diriku bisa sepenting itu,” kata si awan dengan bangga.

“Aku pernah mendengar bukit-bukit pasir yang lebih tua menceritakan berbagai kisah tentang hujan. Kata mereka, setelah turun hujan, kami semua tertutup rerumputan dan bunga-bunga. Tapi aku tidak akan pernah mengalaminya, sebab di padang gurun jarang sekali turun hujan.”

Sekarang giliran si awan yang menjadi bimbang. Kemudian dia tersenyum lebar dan berkata, “kalau kau mau aku bisa menurunkan hujan ke atasmu sekarang juga. Memang, aku baru saja sampai di sini, tapi aku mencintaimu, dan aku ingin tetap di sini selamanya.”

“Waktu aku pertama melihatmu di langit sana, aku juga jatuh cinta padamu,” sahut si bukit pasir. “Tetapi jika kau ubah rambut putihmu yang indah itu menjadi hujan, kau akan mati.”

“Cinta tak pernah mati,” sahut awan itu. “Cinta membawa perubahan; selain itu, aku ingin menjunjukkan surga padamu.”

Dan dia pun mulai membelai bukit pasir itu dengan tetes-tetes kecil air hujan, supaya mereka bisa lebih lama bersama-sama, sampai muncul sebentuk bianglala.

Keesekon harinya, bukit pasir yang kecil itu dipenuhi bebungaan. Awan-awan lain yang melintas untuk menuju Afrika, mengira itu pastilah bagian dari hutan yang mereka cari-cari, maka mereka pun menebarkan lebih banyak hujan. Dua puluh tahun kemudian, bukit pasir itu telah berubah menjadi oase yang memberikan kesegaran kepada para musafir dengan keteduhan pohon-pohonnya.

Dan semua itu karena suatu hari sepotong awan jatuh cinta, dan tidak takut menyerahkan hidupnya demi cintanya.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s