Cinta Kasih di Hari Jum’at

Saya terbiasa berdiskusi dengan sahabat saya Sabhan setiap Jum’at tiba. Ia menjadi kawan saya sejak kami bersama prajabatan menjadi seorang abdi negara. Biasanya, kami selalu bertukar pikiran tentang makna sebuah agama sehabis shalat Jum’at.

Entah ini Jum’at yang keberapa, tetapi saya selalu gembira menjumpa hari ini, karena tentu kan bertemu lagi dengan Sabhan di masjid perkantoran Gubernur.

Nampaknya kami berdua memang seorang muslim, tetapi di dalam menjalankan nafas Islam kami sedikit memiliki perbedaan, setidaknya dari beberapa hasil diskusi kami kusimpulkan demikian. Tetapi rupanya, tidak hanya kami berdua saja yang memiliki perbedaan itu, tetapi beberapa dari jamaah jum’at itu juga memiliki perbedaan-perbedaan.

Saya juga belum tahu mewakili muslim yang mana, tetapi saya hanya menjalankan islam dengan cinta kasih. Sebagaimana Islam yang memiliki ruh rahmatan lil alamin.

Di suatu sore, secara tidak sengaja saya berdiskusi dengan seseorang yang sedang berolahraga di kantor kami. Dia mengatakan bahwa ia sering berlatih panahan.

Tanyaku untuk apa? Itu adalah sunah rasul. “Rasul katanya sering berolahraga itu, juga panahan digunakan untuk membunuh musuh-musuh Islam.” jawabnya. Tanyaku lagi “lantas apakah guna panahan itu untukmu? ”

“Ya sama, untuk melawan musuh-musuh Islam, di Kendari sudah banyak aliran yang mengatasnamakan Islam tetapi sebenarnya bukan Islam, ya kami gunakan itu untuk nyatakan perang terhadap aliran-aliran itu” jawabnya sederhana.

Sungguh saya tidak tahu dari mana lagi pemahaman seperti ini mengada, yang pasti orang ini termasuk dalam salah satu aliran dari 73 aliran Islam yang disebut muhammad melalui hadisnya.

Disitulah kutahu, rupanya Agama bukan hanya tempat bersemayamnya para pencinta Tuhan, tetapi juga tempat berkumpulnya orang-orang untuk meletigimasi pertempuran dan perpecahan. Saya kira terlepas dari benarnya sebuah Agama, kita hanya memiliki Tuhan yang satu, dan semua manusia bersumber darinya. Cinta kasih Tuhan terberi untuk semua, tidak tak terkecuali untuk hewan tumbuhan serta seluruh semesta. Mengapa agama menjadi pembatas sekat-sekat cinta kasih Tuhan. Mengapa agama dijadikan simbol peperangan untuk meniadakan umat yang lahir dari rahim Tuhan juga. Ataukah kita yang salah mendefinisikan makna agama ataukah kita yang keliru menafsir pesan-pesan tuhan!

Entahlah, hanya Tuhan yang Tahu, saya hanya muslim yang penuh cinta kasih tanpa aliran embel-embel.

Seketika itu pula, lelaki itu pergi entah kemana, ia menghilang bersama angin yang menerobos masuk diantara dedaunan pinus yang tumbuh di pelataran kantor Gubernur. Saya berharap bisa bertemunya kembali, untuk sedikit bergumul dan bersentuhan sedikit saja dengan pemahamannya, agar aku tak juga berprasangka tentang apa tujuan sejatinya dari perkataan “panahan” itu.

Lao Tsu, seorang filsuf Cina yang hidup abad ke enam sebelum masehi berkata:

“Bila hendak ada damai di dunia, bangsa-bangsa mesti hidup dalam damai.
Bila hendak ada damai diantara bangsa-bangsa, kota-kota hendaknya tidak berperang.
Bela hendak ada damai di kota-kota, para tetangga harus saling memahami.
Bila hendak ada damai diantara para tetangga, mesti ada keharmonisan di rumah tangga.
Bila hendak ada damai di rumah tangga, kita masing-masing mesti menemukan hati kita.”

Saya tak tahu apakah Lao Tsu seorang muslim, yang pasti ia terlahir dari Tuhan yang sama, ia hanya bersirat tentang pentingnya cinta kasih, dan mengabadikan hati untuk kembali kepada kedamaian Tuhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s