Di Kantor DPR

Saya pernah ditanya seorang kawan, kenapa kamu tidak mencoba keluar dari rutinitas pekerjaanmu sekarang, sebagai seorang Birokrat.

“Saya melihat anda begitu frustasi dengan profesimu itu, dengan latar belakang seorang aktivis. Kiranya anda tak cocok dengan pekerjaan itu” Katanya.

Saya hanya terdiam.

Dalam diamku kawan saya itu melanjutkan lagi pertanyaannya “Tentu, bekerja dalam profesimu seperti sekarang, itu cukup jika dilihat dari ukuran materi, tetapi apakah jiwa dan pemikiranmu nyaman disitu. Sementara, saya melihat anda terus mengasah pergulatan pemikiranmu tidak lebih seperti masih duduk di lingkungan aktivis seperti dulu.”

Ini tidak menafikkan bahwa menjadi seorang birokrat itu tidak mengasah kemampuan berpikir, tetapi disana kan pemikiran kita terlalu dibungkam, semacam tak bisa di eksplore gitu. Segalanya ada di tangan pimpinan. Katanya.

Sekali lagi saya hanya terdiam, dan membatin “Mungkin saja karena di Birokrat saya masih belum diberi kesempatan untuk mengeksplorasi gagasan saya.”

Memang, kawan saya itu adalah seorang politikus yang sedang duduk sebagai pimpinan DPRD di salah satu kabupaten.

Sekali lagi saya terus tersenyum, sebagai balas iba dari keprihatinannya. Sebelum jedah, saya akhirnya berani mengatakan “antara saya dan kamu adalah sebuah kombinasi yang tak bisa terceraikan, kita adalah satu kesatuan dalam Trias Politika di Republik ini. Saya yang berpikir, anda yang mengetuk palunya.”

Kami pun tertawa bersama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s