Senyuman Indah Itu dari “Maria”

Maria
Ilustrasi

Seperti pelangi, ia hanya sebuah berkas putih yang memancar bias menjejali dan menerobos ruang menjadi warna-warna yang indah. Seperti itu pula senyum indah Maria, berbalut polos namun memancarkan bias warna-warna yang indah, untuk setiap yang melihatnya.

***

Warsa-warsa telah berlalu, jika tak salah menerka waktu, gerombolan kita telah berpendar di warsa 2003, menuju kontemplasi ruang waktu yang maha luas, mencari potongan-potongan mozaik kehidupan, menjelejahi semesta tuk memaknai roda-roda kehidupan. Ribuan potongan-potongan pengetahuan yang dititipkan kepada kita di sekolah, telah menjadi kompas kehidupan untuk menuju cita-cita yang diimpikan.

Jika kita berdilatasi sejenak rupanya Tuhan telah memanjakan kita dengan sebuah masa yang indah, masa yang begitu mencitrakan kita dengan cerita keindahan dan kehebatan, cinta yang polos, putri impian, pangeran pengharapan, sebelum kita mendapati nasib sial yang bertubi-tubi, menganggur, tak lolos kualifikasi pekerjaan, terkena tipu, utang membelit, prahara rumah tangga, berupa-rupa kesedihan, lalu akhirnya mati. Masa itu adalah SMA.

***

Anak putih abu-abu, suatu dekade masa yang telah kita lewati, aku duduk di kelas satu dua saat MOS ditemani seorang teman bernama Djamie, dan Boby itu saja mungkin yang ada di memoriku ketika itu, tak lupa jugaLukman Hakimu teman saya semenjak SMP. Djamie dan Boby sibuk menceritakan game petualangan entahlah itu sepotong memori yang sempat kuingat.

Tibalah di pengocokan dan ketika itu aku terdampar di satu lima, bekas laboroturium kimia yang kemudian disulap menjadi kelas. Luar biasa besarnya, jejeran bejana-bejana kimia, pipa ukur, timbangan bertaburan di sisi-sisi kelas, kemungkinan masih terdapat sisa-sisa racikan uranium yang berhamburan di udara. Bangku-bangku panjang semakin menambah angker kelas itu, setidaknya dari sudut pandangku. Di kelas itu aku bertemu Hasim, Haslimin Hamsa, Samadi Latarua, Febi Lasungki,Julan Satriah, Elys Susanti, Agung Zed Smantri, Andi Bangsawan, Wilda Fatmala, Yuyun, Natasha, La Tooti, Budu Amin, Elis Satriana, Waode Yeti Daniati, Waode Hesti Widya ningsih, Sarina, Dian Novianti, Rahma, juga teman-teman yang lain kurang lebih empat puluh siswa ditampung di kelas itu. Namun, keangkeran bekas laboratarium itu membawa berkah, hampir semua orang di kelas itu menjadi ilmuwan di bidangnya masing-masing.

Di kelas itulah awal sebuah cinta lahir, namanya ‘cinta’ selalu bernada kembar, ada sedih sekaligus senang berjalan berharmoni. Untuk irama cintaku kupilih kulabuhkan kepada seseorang yang mendidik. Dialah Maria, Perjalanan cinta ku mungkin tak seeksotik cinta Layla dan Majnun atau cerita cinta gubahan shaksespeare romeo and juliet. Cinta ku seperti potongon lirik-lirik dewa ‘…cintaku bertepuk sebelah tangan’ atau mungkin aku yang salah mengertinya karena kurasa diusia itu aku masih begitu polos untuk mencoba mengerti makna cinta sejatinya. Namun cintaku kepada Maria bukan seperti cinta yang mengerucut pada nafsu yang menuntut tuk dituntaskan, cinta kami seperti anak dan Ibu, sebuah kasih sayang yang sempurna tentunya.

Dikelas itu perhatian Maria lebih ditujukan kepadaku, perhatiannya melebihi semua kualitas energi diantara teman-teman sekelasku. Kalau dalam jejeran periodik hukum kimia, energi cintaku menempati golongan VII dalam tabel, di kolom dengan istilah jembatan keledai Film Charles Bronson Idaman Ati. Energi yang cukup tinggi, bahkan bisa membawa maut jika disalah gunakan, lihat saja sianida ada di golongan itu, zat kimia yang membuat Mirna menuju kekayangan setelah diduga di campur dalam kopinya.

Di dalam kelas Maria Bahkan memilih untuk selalu beradu mata denganku, atau memilih ruang tersendiri denganku. Sikapnya yang dingin selalu ditujukan kepadaku tidak hanya di kelas, tapi juga di luar kelas. Ah. Mungkin itu cinta.

Warsa berlalu, musim berganti, rerumputan kering terus berganti hijau lalu tenggelam, bunga-bunga teratai tumbuh dan mekar di atas genangan-genangan air, lalu kemudian kering lagi. Itulah musim di sekolah kami, ada tiga musim yang selalu melintas, “kemarau, hujan, dan banjir.” berbeda dengan musim biasa yang ada di indonesia, musim di sekolah kami sedikit mencuri satu musim yang ada di eropa.

Silih berganti namun tak berlomba, dari ketiga musim itu aku memilih musim hujan sebagai musim faforit, kenapa? Aku suka melihat pelangi, juga wajah-wajah ayu teman-temanku yang lebih menunjukan parasnya di musim hujan, pucat namun seksi mirip seperti wajah gadis-gadis eropa saat musim semi tiba. Rambut teman-teman lelaki bercucuran dengan minyak rambut yang meluntur, dan rambut-rambut teman-teman wanita ‘basah’ membuat wangi kelas kami, wangi minyak rambut dan aroma lusinan sampo bercampur menjadi racun yang tepat untuk membunuh nyamuk yang mencoba mencuri bulir-bulir darah kami. Memang banyak ‘Aides Agepty’ saat hujan datang. Juga alasan yang paling tepat adalah ada jedah di setiap musim hujan agar tak masuk sekolah, sebab genangan air terkadang memaksa sekolah kami tutup sementara waktu. Sungguh senangnya libur mendadak. Cukup beralasan jika aku menyukai musim ini bukan.

Di musim hujan pula, Dingin menyapa, banyak jeritan-jeritan manusia lain yang turut kedinginan, terkadang mereka datang menyapa dan menyatu dengan teman-teman kami di dalam kelas. Hingga tak tersadarkan, satu per satu wanita telah histeris. Hampir mirip dengan cerita keluarga Cullen dalam cerita novel ‘twilgiht’ Keluarga mereka memilih tinggal di tempat dingin dan sekolah kami adalah rumah besarnya. Anak-anak mereka pun ikut belajar bersama kami, namun berbeda dengan cerita keluarga cullen mereka tak mewujud.

Ah…melompati waktu. Di kelas III cinta kami kandas, Maria datang menamparku setelah melihatku duduk dengan Muslimat, gadis ayu yang bermata sipit, berlesung pipit, rambutnya panjang hitam mengkilat, bibirnya berdiameter sempit, bodinya padat, sempurna secara verbal bisa diringkas menjadi ‘cantik.’ Memang, saat itu keadaan sedang riuh, semua teman-teman bereforia dengan jatah kelas kebangsawanannya. Bangsawan itu adalah IPA, IPS, dan Bahasa. Semua ribut, mengejek, mencerca, bahagia bahkan ada yang hendak bunuh diri karena mereka tak mendapat kelas kebangsawanan yang dicita. Riuh pun terjadi, saat itu hujan rintik-rintik, musim kesukaanku pula, pelangi pun nampak, matahari enggan bersinar, angin berdesir lambat.

Maria terpanggil karena keriuhan sekaligus datang memutus cintaku. Aku terpukul, ku kira ucapan selamat yang hendak diutarakan kepadaku karena aku mendapat kelas bangsawan IPA namun rupanya persepsiku salah. Amarah yang kudapati, bersamaan dengan datangnya sentuhan hangat di pipiku.

Aku terbujur layu, seperti bunga teratai yang belum mekar di depan kelasku. Maria memutus cinta, Kelas III IPA 4 menjadi saksi bisu yang hidup, rintik-rintik hujan seolah mengiringi peristiwa itu, mendendangkan lagu senandung melayu victor hutabarat ‘Kasih sekejap’. Sendu tentunya.

***

Meski dengan terpaksa, Ia mau berpose denganku saat perpisahan di Gedung Pancasila, namun kutahu senyumnya berbicara lain, senyum itu tak seindah di awal jumpa. Senyum itu tak seperti lagi pelangi yang membias beraneka warna. Senyumnya di kulum rapi dalam hati yang tak mampu ku duga. Maria, kau sungguh berjasa. Kau telah membangkitkan cita dan cintaku. Aku bahkan belum berterima kasih kepadamu, dan memohon maaf. Semoga kau tenang disana. Alfatihah untukmu.

***

Kupersembahkan kepada Ibu Guruku Yang Kucintai dalam hari yang penuh cinta ini. Almarhumah Ibu Haji Maria Amin.

Di utara Kota Baubau, Kendari 2 Februari 2016.

Rami Musrady Zaini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s