Doa Ustad Coelho

Ilustrasi
Ilustrasi

Seperti biasa sahaya selalu ditemani alphabet-alpahebet yang terjilid pabila kegelisahan mendera. Sembari duduk diam di antara rak-rak dan pemandangan muntahan manuskrip-manuskrip tebal yang berserakan akibat ledakan pencarian kebaruan, kutemukan Paulo Coelho di sela-sela cahaya yang memendar.

Ia hadir dalam kegelisahan dan keragu-raguan yang belakangan sering menggerogoti tindak lakuku. Lembar demi selembar kuselami ikhtiar panjangnya. Tibalah aku di spot ‘doa yang terlupakan’ dari ekpolarasi perjalanan hidup coelho sepenuh-penuhnya.

Sebuah doa yang secara misterius hidup kembali dalam idenya, sementara ia telah melupakannya. Mungkin saja Tuhan baru saja mengabulkan doanya dengan cara yang tak terduga. Alhasil, seperti tersetrum vibarasi positif aku pun lumpuh dalam doa-doanya.

Kata demi kata kuucap hingga tibalah aku dihalaman akhir dari doa-doanya. ‘Amin’. Sebuah doa yang sesaat menyeretku kedalam dialektik metafisika transendental yang terus mendesak bertemu dengan-Nya, mengombang-ambingkanku dalam arus kalimat doa–doa yang menyayat jiwa. Begitu tulus dan cair.

Dan dihadapan wajah tuhan, keragu-raguanku mencapai anti klimaks. Doa itu seolah telah membawaku keluar dari hilir yang deras menuju samudera lepas. Aku puas!

Dalam lorong imani coelho, kutertantang hidup kembali.

Inilah doa tersebut:

Tuhan, lindungilah keragu-raguan kami, sebab keraguan pun sebentuk doa. Keraguan-lah yang membuat kami bertumbuh dan memaksa kami untuk tak takut melihat sekian banyak jawaban yang tersedia untuk satu pertanyaan. Kabulkanlah doa kami…

Tuhan, lindungilah keputusan-keputusan kami, sebab membuat Keputusan pun sebentuk doa. Setelah bergulat dengan keraguan, beri kami keberanian untuk memilih antara satu jalan dengan jalan yang lainnya. Biarlah kiranya pilihan YA tetap YA dan pilihan TIDAK tetap TIDAK. Setelah kami memilih jalan kami, kiranya kami tidak pernah menoleh lagi atau membiarkan jiwa kami digerogoti penyesalan. Kabulkanlah doa kami…

Tuhan, lindungilah tindakan-tindakan kami, sebab Tindakan pun sebentuk doa. Kiranya makanan kami sehari-hari menjadi buah dari segala yang terbaik dalam diri kami. Kiranya kami bisa berbagi walau sedikit saja dari kasih yang kami terima, melalui karya dan perbuatan. Kabulkanlah doa kami…

Tuhan, lindungilah impian-impian kami, sebab Bermimpi pun sebentuk doa. Kiranya usia maupun keadaan-keadaan tidak menghalangi kami untuk tetap mempertahankan nyala api harapan dan kegigihan yang suci itu di dalam hati kami. Kabulkanlah doa kami…

Tuhan, berikanlah antusiasme kepada kami, sebab Antusiasme pun sebentuk doa. Antusiasme-lah yang memberitahu kami bahwa hasrat-hasrat kami penting dan layak diperjuangkan semaksimal mungkin. Antusiasme-lah yang mengukuhkan kepada kami bahwa segala sesuatu tidaklah mustahil asalkan kami sepenuhnya berkomitmen pada apa yang kami lakukan. Kabulkanlah doa kami…

Tuhan, lindungilah kami, sebab Hidup ini adalah satu-satunya cara bagi kami untuk mengejawantahkan kuasa keajaiban-Mu. Kiranya bumi tetap mengolah benih menjadi gandum, kiranya kami bisa tetap mengubah gandum menjadi roti. Dan semua ini hanya dimungkinkan apabila kami memiliki Kasih; karenanya, janganlah kami ditinggalkan seorang diri. Biarlah selalu ada Engkau disisi kami, dan ada orang-orang lain – laki-laki dan perempuan-perempuan – yang menyimpan keragu-raguan, yang bertindak dan bermimpi dan merasakan antusiasme, yang menjalani setiap hari dengan sepenuhnya membaktikannya kepada kemuliaan-Mu.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s