Pemuda Ekonomik: Gagasan Transformasi Dalam Literatur Paska Modern

Sumpah pemuda tidak hanya selalu menjadi pemantik kekuatan pemuda delapan puluh tajuh tahun silam, tetapi sumpah pemuda adalah romantisme yang perlu dihidupkan dalam relung-relung dan ruang juang pemuda di konteks kekenian. Tercerabutnya gagasan-gagasan pemuda dalam diksursus berbangsa dan bernegara bukan saja menjadi alasan fenomenal dinamika kepemudaan Indonesia yang semakin tergerus, tetapi bisa menjadi diskursus dependensia akut pemuda apabila formula antitesa gerakan pemuda tidak menjadi premis mayor dalam literatur paska modern. Fakta menariknya adalah jika dahulu Pemuda menculik Bung Karno dan Bung Hatta untuk peristiwa heroik kemerdekaan bangsa, pemuda saat ini diculik Presiden Jokowi dalam jamuan makan malam.

Kecendrungan ‘jamuan makan malam’ adalah fenomena yang perlu dianalisa secara mendalam, bahwa kemungkinan keterbatasan sumber daya finansial-lah yang mendorong lahirnya gagasan-gagasan pragmatis pemuda masa kini. Sebagaimana ujaran Soe Hok Gie dalam catatan hariannya pemuda di indonesia hanya diberikan dua pilihan menjadi idealis atau apatis.

Pemuda Ekonomik

Kelemahan paling fundamental dihadapi pemuda adalah keterbatasan sumber daya finansial sehingga pemuda mudah tergiring dalam wilayah-wilayah politik praktis dan politik kepentingan sehingga nilai dan gagasan pemuda yang tadinya suci menjadi ternodai oleh jeratan kepentingan sponsor yang mendanai pemikiran dan gerakan pemuda. Diperlukan sebuah upaya dan gerakan agar pemuda berani keluar dari problem-problem klasik tersebut, dan itu hanya bisa tercapai dengan kemandirian ekonomi. Sehingga tawaran yang coba penulis gagas adalah pemuda ekonomik.

Pemuda ekonomik adalah sebuah gagasan untuk menciptakan pemuda yang memiliki kemampuan finansial dan informatikal, sebagaimana ciri masyarakat paska modernis yang tertitik berat pada masyarakat finansial dan masyarakat informasi. Pemuda ekonomik sebagai character building yang diharapkan mampu membangun bangsa dan negara ke arah yang lebih baik, terhormat, dan bermartabat. Pemuda ekonomik tidak hanya menunggangi pemuda dengan kekuatan modal (kapital force) tetapi juga kekuatan moral (moral force). Untuk itu menjadi pemuda ekonomic adalah upaya untuk menyiasati masa depan dimana saat ini para pemuda dihadapkan pada tantangan global yang makin beragam. Para pemuda dihadapkan pada krisis berbangsa dan bernegara dan lebih parahnya para pemuda dihadapkan dengan krisis keuangan global yang masih terus berlanjut hingga sekarang.

Sumpah pemuda 87 warsa lalu yang mengangkat ikrar bertumpah darah satu, tanah air indonesia, berbangsa satu, bangsa indonesia, dan berbahasa satu, bahasa indonesia mesti ditransletarasikan berdasarkan konteks zamannya, dimana tantangan pemuda sekarang tidak lagi diperhadapkan pada keutuhan nation melainkan sebuah permasalahan global yang lebih kompleks terutama jeratan kapitalisme yang mengusung tema kemandirian ekonomi individual berorientasi pasar. Sehingga Pemuda ekonomik adalah tawaran staratejik yang perlu dipertimbangkan.

Bonus Demografi Sebagai Dukungan Pemuda Ekonomik

Pemuda ekonomik sebagai strategi makro pemuda paska modern ditunjang oleh bonus demografi yang telah kita masuki di tahun 2010 yang lalu hingga nanti di tahun 2030. Pemuda mesti segera merespon peluang bonos demografi tersebut dengan langkah-langkah statagis dalam menuju Pemuda Ekonomik seperti Meningkatkan kualitas sumber daya manusia kewirausahaan, memanfaatkan surplus penawaran tenaga kerja, meningkatkan kapital dan tabungan dengan jalan ekonomi kreatif, Penciptaan inovasi, meningkatkan pemberdayaan peran pemuda dalam pembangunan ekonomi. Lebih jauh, pemuda harus mendorong dikembangkannya insentif untuk mencetak semakin banyaknya wirausaha di sektor pertanian (agropreneur), di bidang kelautan dan kemaritiman (seapreneur), di bidang teknologi (technopreneur) bahkan di bidang pendidikan (edupreneur).

Landasan Enterpreunirship inilah yang menjadi logika utama pemuda ekonomik, pemuda yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga pemuda yang memiliki kecakapan finansial. Dan Bonus demografi adalah peluang yang mesti dijemput pemuda untuk mewujudkan pemuda ekonomik, dan tren Pemuda ekonomik juga secara tersirat telah didukung oleh analisa ilmiah Anies Baswedan tentang formasi dan sirkulasi rulling elite Indonesia pada periode maturitas 1940-1960an diduki oleh Intelektual dengan tren dan jalur rekrutmen melalui pendidikan modern, periode maturitas 1970-1990an diduki oleh angkatan bersenjata dengan tren dan jalur rekrutmen melalui perjuangan fisik, periode maturitas 2000an-2020 rulling elitnya adalah aktivis dengan tren dan jalur rekrutmennya dari organisasi masa dan politik, sementara Periode Maturitas 2020-an – ? ruling elitnya adalah kalangan entrepreneur dan bisnisman yang tren dan jalur rekrutmennya adalah Pasar dan dunia bisnis.

Kiranya tren ini akan berlanjut terus dan perekrutan terhadap generasi muda untuk memasuki pasar (dunia bisnis) berlangsung intensif. Meskipun mungkin tidak diiringi kesadaran (atau bahkan tampa ambisi) bahwa pemuda ekonomik berpotensi menjadi pewaris rulling elite Indonesia dan juga sebagai wacana tranformasi gerakan pemuda di era paska modern.

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s