R.A. Kartini dan Ibuku

Seandainya Cristiana Martha Tiahahu tahu bahwa hanya dengan mengirim-ngirim surat saja bisa dijadikan Pahlawan, dia mungkin tak kan pernah mengangkat senjata dan bambu runcing untuk mengusir penjajah. Tetapi cukup dengan Mengirim Surat saja.

(Abdur Stand Up Comedy)

Ocehan si Abdur tersebut terasa cukup menyentuh atau dibenarkan, seolah dia telah dirasuki pahlawan wanita asal Maluku tersebut tuk mengkritisi bangsa ini.

Lebih lanjut “Cristina Martha Tiahahu, cemburu sebab dia tak pernah dibuatkan film ataupun dirayakan kelahirannya seperti Cut Nyak Dien dan R.A. Kartini” celoteh si abdur.

Tetapi sebenarnya orang-orang besar yang disebut pahlawan itu, tak pernah tahu akan atribut kepahlawanan yang diberikan kepada mereka bahkan jika masih ‘ada’ mereka kan menolak atribut itu. Mereka hanya tahu berbuat dan bekerja berbalut kesucian hanya untuk negeri dimana mereka berdiam. Olehnya itu, sejatinya setiap orang memiliki potensi untuk menjadi pahlawan.

Masa ini, sangatlah sulit mencari sosok pahlawan, sebab banyak yang tidak memiliki unsur dan materi untuk menjadi pahlawan. Justru malah banyak didapati orang yang ingin disebut pahlawan atau ingin di pahlawankan.

Seringkali banyak dijumpai penjahat berkosmetik pahlawan seperti dalam kontes dan sayembara Pilkada atau Pilcaleg. Yang jika terpilih terbukalah jubah pahlawan mereka. Hingga akhirnya kita frustasi, ternya kita telah salah menyematkan pahlawan kepada mereka.

Dan untuk (Si) apakah pahlawan itu?

Untuk seorang Atlet tinju kah yang dulu mengharumkan nama bangsa ini…dan kini harus berakhir dalam jeruji, karena telah mencuri tembaga.

Atau untuk seorang pejuang kah, yang berdarah-darah berdiri di garis depan membela tanah air dan bangsa untuk mengusir penjajah…Setelah Merdeka, Ia malah dijadikan Pemberontak.

Dan, untuk seseorang yang telah merampok uang rakyat bermilyar-milyar dan belakangan diberi gelar dan disematkan bintang emas tak ayal seperti pahlawan.

Sungguh sebuah Ironi

Seperti puisi sulhan yusuf yang berjudul  Ironi

Ironi

…Hanya karena engkau melempar sebiji garam ke laut engkau sudah merasa menggarami laut.

Sehingga semua rasa asin dari laut itu seakan hasil jerih payahmu.

Seharusnya malulah pada petambak garam yang telah menghasilkan bermilyar biji garam,

Tapi tidak merasa menggarami laut…

Lantas siapakah Pahlawan?

Ibuku
Ibuku

Dan untuk hari kartini kali ini kusematkah Pahlawan pada Ibuku, Wanita yang tak memakai embel-embel dalam ‘berbuat dan bekerja’. Itulah syarat menjadi Pahlawan bagiku. Pahlawan yang dengan kesucian dan ketulusannya membesarkan sahaya hingga detik ini.

Selamat Menjadi Pahlawan Ibuku, hari ini dan untuk selamanya.

Dan untukmu Ibu kusenandungkan gubahan SM Moehtar sebagai pembalut rinduku,sebagai penengah waktu yang berjarak ini.

Semoga saja senandung ini terdengar dihatimu, seperti halnya sahaya kala itu yang tetap mendengar senandungmu mesti dalam tidurku.

Kasih Ibu

Kasih Ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,
tak harap kembali,

Bagai sang surya, menyinari dunia.

“Dan sejatinya, Ibu adalah sebenar-benarnya Pahlawan.” 

(Rami Musrady Zaini)

 

Lorong Waktu Gubernuran

Kendari, 21 April 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s