Kasat Kusut Menjelang Pemilu: Sebuah Kegusaran Sosial

Slogan PKI

Foto: Diunggah dari Facebook Muhidin M. Dahlan.

Madness and civilization, secara garis besar, adalah sejarah pembagian. Sejarah atas semua keretakan, dimana setiap masyarakat menyadari bahwa mereka berkewajiban untuk turut menyusunnya. Dalam kosensus bernegara, momentum politik adalah situasi yang tepat untuk memperbaiki keretakan itu. Baik pemilihan legislatif maupun menuju ke pemelihan purna tuk Presiden kita.

Pemilu legislatif yang jatuh pada tanggal Sembilan april dua ribu empat belas adalah sebuah titik balik menuju bangsa menjadi Negara yang lebih baik atau malah sebaliknya lebih bobrok. Fase pertama pemilihan ini akan mempengaruhi fase pemilihan selanjutnya. Tetapi dibalik itu semua muncul berbagai kasat kusut yang membuat kegusaran lokal dan global. Apa itu?

Caleg dari Pemberdayaan atau Perkaderan? 

Dalam warsa-warsa terakhir, kualitas seorang legislator maupun calon legislator mengalami degradasi, hal itu bisa dilihat dari kinerja mereka di parlemen. Backgroundnya pun cukup berwarna. Hal ini memang lumrah sebab dalam republik ini siapa pun berhak untuk dipilih dan memilih. Tetapi jika hal itu lepas sensor masyarakat ya imbasnya bisa fatal. Partai politik pun yang mestinya menjadi kawah candradimuka bagi seorang politikus, cenderung mengambil langkah-langkah praktis. Sehingga model partai tidak lagi bertumpu pada pengkaderan melainkan pemberdayaan.

Bagaimana partai politik (parpol) dalam perekrutan calegnya? Apa melalui jenjang perkaderan atau hanya meminang caleg dari kalangan popular tanpa melihat latar belakang terutama dari sisi kualitas dalam memaknai konteks berbangsa dan bernegara (baca:Politik). Sehingga partai politik lebih condong ke pemberdayaan ketimbang pengkaderan. Hal ini tidak salah, tetapi politisi seharusnya pengabdi, bukan pekerja professional yang kehidupan materialnya tergantung pada profesinya. Dan untuk mendapatkan politisi sejati macam ini, organisasi harus mampu melakukan proses pengkaderan dengan baik.

Namun, sebagaimana terjadi dalam dunia bisnis, partai politik juga kerap merekrut orang dari luar partai. Tidak heran, banyak caleg yang memiliki background artis, pedagang, bahkan preman (dalam arti sempit) diakomodir di partai. Tidak heran memang dalam alam politik yang demokratis, peluang politik sedemikian terbuka sehingga terkadang proses pengkaderan terkesan sia-sia, apalagi kalau pada akhirnya berbagai posisi starategis partai diduki oleh ‘politisi kos-kosan’. Istilah ini sudah akrab disini untuk menggambarkan politisi yang dicokok oleh oligarki partai dari tempat lain, entah karena popularitas, kelebihan sumber daya finansial, atau karena kedudukan politiknya yang strategis di pemerintahan. Partai hanya memikirkan ‘vote getter’ alias penarik suara. Sehingga muaranya akan cepat tertebak ya sudah pasti ke laut alias kenisbian.

Fenomenologi Politik 

Banyak aspek yang muncul setelah pelaksanaan otonomi daerah, pemilihan langsung dimana rakyat memiliki otoritas penuh terhadap keputusannya. Sehingga terkandung makna ambigu, namun yang banyak mencuat adalah sisi negatifnya. Masyarakat mengambil keputusan berdasarkan pengalamannya. Selama ini pengalaman-pengalaman masyarakat yang dipilih maupun yang memilih tersentrum pada pemikiran ‘Apa di dapat’ sehingga upaya yang dilakukan untuk mencapai pertanyaan ontology itu adalah ‘politik berbasis finansial’ atau kasarnya politik uang. Memang benar apa yang diungkap Hurbert Blumer bahwa manusia itu bertindak terhadap sesuatu (apakah itu benda, kejadian, maupun fenomena tertentu) atas makna yang dimiliki oleh benda, kejadian, atau fenomena itu bagi mereka. Individu merespon suatu situasi simbolik. Mereka merespon lingkungan, termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial (perilaku manusia) berdasarkan makna yang dikandung komponen tersebut bagi mereka. Dengan kata lain adalah pengalamannya.

Proses politik adalah sebuah fenomena yang melibatkan beberapa orang dalam berinteraksi, dan dalam hal memaknai proses politik cukup nampak kegusaran-kegusaran masyarakat yang mengalami proses ini. Partai politik maupun calegnya mestinya harus memberikan pelajaran-pelajaran politik berbasis nilai tetapi kenyataannya tidak. Seperti kata Jasmin seorang aktivis muda di lingkar hijau hitam mengatakan “Cara-cara yang dilakukan oleh caleg sangat pragmatis lebih berorientasi pada hasil akhir dari pada proses, tidak memberikan pendidikan politik pada konstituen. Kita lihat saja, pemikiran money politic sebagai paspor mudah menduduki seat di parlemen. Lanjut kata Farid ‘tidak satupun caleg yang coba menjelaskan sebenarnya bagaimana partainya akan membawa kebaikan bagi republik ini’. Senada dengan hal itu Marx seorang mahasiswa juga mengungkapkan ‘kita melihat prilaku seorang calon legislator sebelum dan setelah pemilihan. Bagai langit dan bumi. Sebelum pemilihan, misal dalam ranah keluarga, keluarga yang nyaleg jarang ketemu nanti pas ada waktu nyaleg eh tiba-tiba datang rumah minta tolong (wah, musim nyaleg musim silaturahmi ya)’ Lain halnya dengan Jufra Udo ‘Semua warga Negara berhak untuk mengikuti pesta demokrasi ini, dimana rakyat yang memiliki kuasa untuk menempatkan wakilnya dilegislatif. Yang terkadang masyarakat terhipnotis janji-janji caleg. Kenyataaannya dilapangan sebelum terpilih ada sapaan ala selebritis dari dalam mobil, tetapi jika terpilih menutup rapat kaca mobilnya setelah lolos di DPR’. Sebelum terpilih prilakunya high sosial namun setelah terpilih malah kecendrungan sosialnya menurun (undersosial).

Hari-hari menjelang turun coblos, fenomena politik serangan fajar cukup memenjarakan nurani masyarakat dan sudah menjadi budaya politik. Namun dari kesemuanya, hati nuranilah yang berbicara. Kita harus memilih caleg yang tetap konsisten dengan nasib kebangsaan. Hal itu mudah saja dicirikan terpilih atau tidak terpilihnya figur politik tersebut pastinya tetap memiliki pola meneriakan kebenaran dan terus bersama-sama dengan jelata. Sebab hakikat sejati dari seorang berpolitik adalah untuk sebuah pengabdian. So kita tidak perlu terlalu bingung dengan para caleg-caleg seperti itu. Yang muncul sebagaimana jamur dimusim hujan, ya namanya juga jamur pasti cepat layu dan membusuk.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s