LIPPO Group: Koalisi Samsu Umar (AS) Thamrin

Umar Samiun dan As Thamrin

Sumber foto: baubaupos.com

Belum seumur jagung setelah dilantik oleh Nur Alam Gubernur Sulawesi Tenggara duo pemimpin daerah, Samsu Umar AS (Bupati Buton) dan AS Tamrin (Wali Kota Baubau) mulai menunjukkan geliat pembangunannya. Salah satunya adalah pembangunan Mall yang akan ditempatkan pada lokasi eks Dinas Sosial dan Dinas Penerangan milik Kabupaten Buton di Kecamatan Betoambari Kota Baubau yang merupakan kerjasama linear antara LIPPO Group- Kabupaten Buton-Kota Baubau.

Seringkali pembangunan hanya diidentikkan dengan peran dua sector saja yakni sektor pemerintah dan sektor swasta. Namun kita kurang memperhatikan bahwa sektor ketiga juga turut menyumbang dalam proses pembangunan. Sector ketiga itu adalah peran masyarakat (sosial capital). Yang mana sektor ketiga ini cukup memberikan kontribusi positif untuk pertumbuhan ekonomi daerah.

Pembangunan mall pun diasumsikan pemerintah dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi di daerah dengan instant. Spekulasi pun muncul dengan asumsi-asumsi ekonomi yang sederhana. Dibalik pembangunan mall itu pula timbul ancaman yang kalau dibiarkan perlahan-lahan bisa ‘membunuh’ peranan sektor ketiga. Dalam hal ini adalah pedagang tradisional yang tersebar beberapa titik di kota baubau diantaranya Pedagang kaki lima di pantai kamali, pedagang buah di lembah hijau, pedagang di karya nugraha, pedagang di laelangi, dan juga pedagang yang ada pasar wameo.

Padahal ada beberapa kajian yang mulai melihat pedagang kaki lima dalam memberikan sumbangan bagi pendapatan nasional maupun daerah. Seperti penelitian Hernando de Soto ditemukan bahwa pedagang kaki lima mampu menyedot jumlah tenaga kerja dan pedagang kaki lima mampu bertahan dalam krisis ekonomi. Hanya saja label cacat legalitas yang kerap diberikan kepada pedagang kaki lima menjadi penghambat bagi mereka. Pedagang kaki lima yang ada di baubau pun menjadi harap-harap cemas (H2C) dan terkesan hanya malas bicara (HMB) dalam meratapi nasib kekiniannya dalam menghadapi korporasi besar Lippo group dan koalisi duo pemimpin daerah.

Pasar Tradisional vs Mall

Nasib pedagang kaki lima juga pedagang-pedagang lain yang berdomisili dalam pasar tradisional diambang kematian ketika harus berhadapan dengan Mall. Dari segi harga tentunya harga sebuah produk di mall relatif lebih murah dari pasar tradisional, variasi produknya pun lebih beraneka ragam. Mulai dari pakaian, makanan dan minuman, daging segar, ikan, sayuran, dan buah-buahan semua tersedia di Mall. Ditambah kenyamanan dalam berbelanja dengan air conditioner (AC) yang sejuk pengunjung dijamin anti gerah walau harus berjalan berjam-jam, ditambah fasilitas trolly pengangkut barang yang bisa mengangkut barang hingga ke mobil konsumen, juga anti cuaca ekstrim panas maupun hujan. Jadi konsumen dan pengunjung dibuat senyaman mungkin.

Ini tak heran, sebab dalam pembangunan sebuah mall untuk satu gerainya pun butuh kurang lebih lima ribu meter persegi yang rata-rata mencapai tiga puluh sampai lima puluh milyar rupiah. Ini baru bangunan fisik, belum biaya promosi dan pemasaran mencapai sepuluh sampai dua puluh milyar. Hal ini lah yang membuat perputaran uang di mall sangat tinggi. Menurut AC Nielsen market size pasar ritel ini senilai tiga ratus tiga puluh trilyun rupiah dan omset penjualannya semakin besar setiap tahunnya jika di tahun 2002 hanya 12% melonjak pada tahun 2003 menjadi 38% (SWAsembada,19/12/2004).

Bayangkan dengan kondisi di pasar tradisional yang konsumennya harus berdesak-desakan, panas kepanasan apalagi di musim hujan pecek pun tak dapat terhindarkan. Ditambah variasi produknya yang kurang banyak. Tetapi dalam hal ini konsumen tidak bisa disalahkan karena setiap konsumen akan mengikuti naluri preferensinya untuk memuaskan dirinya semaksimal mungkin. Dalam teori konsumen disebutkan bahwa dalam kondisi rasional seorang konsumen akan memilih harga yang termurah untuk memuaskan kebutuhannya. Sehingga jika asumsi ini benar tak ada lagi orang yang akan berbelanja di pasar tradisional. Ditambah lagi dengan lokasi rencana pembangunan mall itu pun lokasinya tak begitu jauh dari lokasi pasar-pasar tradisional. Sudah pasti pasar-pasar tradisional akan mati.

Ketimpangan Ekonomi

Ketimpangan ekonomi yang penulis maksud bisa berupa ketimpangan ekonomi daerah satu dengan daerah yang lain dan ketimpangan antara masyarakat si kaya dan si miskin dalam hal distribusi ekonomi. Untuk ketimpangan daerah, tak bisa dihindarkan Ketimpangan antara daerah Kabupaten Buton dan Kota Baubau.

Untuk kabupaten buton adakah nilai tambah (value added) ekonomi bagi masyarakat kabupaten Buton dengan pembangunan mall tersebut? Inilah yang menjadi Pekerjaan Rumah bagi Bupati Buton untuk menyangga perekonomian masyarakatnya. Pembangunan mall tersebut juga semakin menguatkan aktivitas gravitasi ekonomi tersentrum di Kota Baubau tidak menjadi mustahil magnet ekonominya mempengaruhi juga sektor perdagangan di Kabupaten Buton. Sebut saja perikanan dari hasil tangkap nelayan dan pertanian dari hasil petani kabupaten buton yang selalu didistribusikan ke kota baubau akan mengalami penurunan, sebab tujuan akhir dari hasil tangkapan nelayan itu dijual ke pasar tradisional yang ada di kota baubau. Dengan tidak adanya lagi pengunjung yang berbelanja di pasar tradisional. Mengakibatkan income dari nelayan dan petani kabupaten buton berkurang secara mikro. Dan secara makro bisa pula turut mempengaruhi penurunan PDRB kabupaten buton dan jika tak disiapkan sabuk pengamannya bisa memicu timbulnya inflasi. Kalaupun hasil dari nelayan dan petani akan dijual ke mall itu tentu harus melalui prosedur yang panjang, mulai dari kualitas juga standar yang ditetapkan mall juga tentunya produk tersebut membutuhkan fasilitas bertekhnologi yang saat ini belum dimiliki nelayan dan petani kabupaten buton.

Untuk kota baubau sendiri akan muncul ketimpangan distribusi pendapatan yang tidak seimbang. Karena uang yang berputar di mall tersebut hanya dinikmati oleh pemegang modal. Sehingga secara tidak langsung bisa menimbulkan kemiskinan akibat berkurangnya penghasilan pedagang-pedagang yang tersebar di luar mall dan dalam jangka waktu yang panjang pedagang-pedagang ini pun harus gulung tikar atau harus mencari alternatif pekerjaan lain. Amartya sen peraih nobel ekonomi 1998 mengungkapkan kemiskinan dan kelaparan di suatu daerah belum tentu disebabkan oleh kelangkaan potensi yang dimiliki daerah. Akan tetapi, lebih sebagai akibat dari kebijaksanaan pendistribusian yang kurang baik. Peran pemerintah disini sebagai regulator tak bisa memandang sebelah mata harus mengatur masalah distribusi ekonomi ini.

Walaupun dengan adanya mall ini bisa memicu meningkatnya PDRB Kota Baubau dari sisi investasi namun perlu dikaji lebih jauh bahwa Ketika pertumbuhan ekonomi meningkat, ternyata ketimpangan pendapatan yang diukur dengan indeks gini pun meningkat, dan kemiskinan cenderung menurun. Dengan kata lain, makin tinggi pertumbuhan, memang jumlah dan tingkat kemiskinan cenderung menurun, tetapi ketimpangan antara si kaya dan si miskin cenderung kian lebar saat pertumbuhan ekonomi semakin meningkat (Mudrajad Kuncoro), sebab Ukuran seperti PDRB bisa menunjukkan output ekonomi, namun tidak dapat menunjukkan bagaimana keadaan orang dalam pengertian yang luas. Sehingga diperlukan peninjauan kembali terhadap rencana pembangunan mall dan perlu kajian komprehensif dari sisi manfaatnya dan efeknya bagi masyarakat kota baubau secara khusus.

Terakhir, kembali ke ekonomi kerakyatan. sebagaimana yang diamanatkan undang-undang 1945 perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan (33 ayat 1),….dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (33 ayat 3). Dengan ekonomi kerakyatan ketimpangan ekonomi bisa dicegah dan kue pembangunan pun bisa dirasakan langsung oleh masyarakat (trickle down effect) bukan malah muncrat ke atas (trickle up effect). Inilah ‘pekerjaan rumah’ tidak hanya bagi pemimpin-pemimpin kita, tetapi juga menjadi tugas wakil-wakil kita yang duduk di DPRD. Sejauh mana tingkat kepekaannya terhadap suara-suara rakyat!

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s