Anas Buah Simalakama HMI

Anas Urbaningrum 1Jum’at, 23 Februari 2012, menjadi hari keramat. Dimana Anas Urbaningrum (AU) ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah diyakini merugikan Negara Rp.234 Milyar dalam kasus proyek kompleks olahraga terpadu di Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Peristiwa ini membuat geger kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Betapa tidak, naiknya AU sebagai Ketua Umum partai terbesar di Indonesia (Partai Demokrat) yang notabenenya adalah Ketua Umum Pengurus Besar HMI (1995-1997) membuat popularitas HMI meningkat.

Banyak pihak mengatakan bahwa HMI sebagai produsen Negarawan. Namun ketika AU menjadi pesakitan dalam kasus korupsi Hambalang, HMI kemudian dihujat. Imbasnya: terpuruknya citra HMI. Banyak pihak kemudian menuding HMI sebagai produsen koruptor di Republik ini. Benarkah?

Perkaderan HMI

Organisasi dapat dikenali dengan berbagai cara antara lain: melalui atribut-atribut organisasi , jargon-jargon gerakan, karya dan kadernya. Dari kesekian ciri itu output kaderlah yang paling mudah dalam mengidentifikasi sukses tidaknya sebuah organisasi. Kader HMI lahir dari proses perkaderan. Sehingga dalam logika yang sederhana, jika ada kader yang melenceng dari norma HMI maka berarti perkaderan HMI lah yang gagal. HMI sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan yang bersumbu pada doktrin keislaman, keilmuan, dan kebangsaan. Sejatinya HMI tak mungkin melahirkan kader Koruptor.

Karakter kader yang ditempa dalam HMI mencerminkan nafas islam dan keilmuan. Dalam Masyarakat cita, yang menjadi tujuan akhir HMI diungkap oleh frasa kalimat “terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi Allah Subahanahu Wa ta’ala”, yang identik dengan frasa “Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghofur”. Dengan demikian, HMI ditempatkan sebagai organisasi perjuangan yang berupaya memperbaiki seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk sosial ekonominya. Tidak mencukupi bila HMI mendidik kader yang berkualitas kemudian berperan penting dalam masyarakat, akan tetapi tidak melakukan perubahan sosial yang mendasar didalamnya.

Anas Urbaningrum

Dilema HMI

HMI sebagai sebuah gerakan pembaharuan selalu bertolak dari landasan yang jelas, radiks ,integratif dan tegas dalam menyikapi sebuah problematika keumatan termasuk korupsi. HMI dituntut untuk tetap kritis dan bersuara lantang di atas pijakan moral dan intelektual. Oleh karena itu HMI harus meletakkan sikap dan aksinya dalam korirdor agenda-agenda strategis bangsa Indonesia. Tidak terjebak pada fenomena sesaat dan “tarian” pihak lain yang belum tentu sejalan dengan kejatidirian HMI itu sendiri. Pernyataan Mahfud MD selaku Koordinator Presidium KAHMI bahwa ‘KAHMI akan memberikan bantuan hukum kepada Anas Urbaningrum’ (Metro TV,24/02/2013) juga pernyataan ketua umum PB HMI Noer Fajriansyah ‘Keluarga besar HMI harus solid membantu Anas Urbaningrum’ (TV One, 27/02/2013) harus dikaji terlebih dahulu. Bukan terkesan terburu-buru dan seolah-olah hanya mengikuti eforia politik kekinian. Namun memang Posisi ini sangat dilematis bagi kader HMI karena yang ditentang adalah alumninya sendiri. Jika mengatakan ‘TIDAK’ maka akan terjadi hubungan disharmonis antara KAHMI dan HMI yang notabene KAHMI banyak menyumbang pemikiran maupun pendanaan bagi kader HMI. Tetapi jika ‘YA’ pernyataan tersebut diamini tentunya akan berbenturan dengan sikap Independensi HMI dan sudah tentu inkonstitusional.

Sikap independensi HMI tersebut termaktub jelas dalam pasal enam anggaran dasar konstitusi. Artinya HMI tidak boleh terintervensi oleh pihak lain apalagi sampai didikte. HMI dituntut mampu memperjuangkan nilai kebenaran agar umat tahu bahwa HMI merupakan bagian dari umat yang tetap berpihak kepada kebenaran dan bukan menjadi subordinasi dari kelompok kepentingan politik tertentu termasuk alumninya yang tergabung dalam KAHMI. Sejarah telah berulang walaupun tak sepanas tahun 1986 ketika HMI harus melawan rekayasa asas tunggal pancasila di Kongres Padang. Kala itu, HMI dibawah tekanan Menpora Abdul Gafur sebagai alumni HMI dimana Abdul Gafur berkata HMI tak boleh menjalankan kongres kecuali HMI sepakat mengubah asas Islam menjadi asas tunggal pancasila. Hal tersebut membuat imbas polarisasi ditubuh HMI yang melahirkan HMI MPO yang tetap mempertahankan asas Islam dan HMI DIPO yang mengubah asas islam menjadi asas tunggal pancasila. Semua itu harus dibayar mahal oleh HMI yang dampaknya masih terasa sampai hari ini. Kita tak mengingkinkan hal ini terulang kembali dengan perseteruan HMI dan KAHMI dalam kasus AU. Lantas langkah apa yang harus diambil HMI?

Kembali ke Khittah Perjuangan

Orang bijak mengatakan bila anda menyadari telah menyimpang maka kembalilah ke pangkal jalan (khittah). Nah sudah saatnya HMI kembali ke khitah untuk menafsir ulang gerakannya. Khittah yang merupakan integral dari Alquran dan alhadist mutlak harus diterjemahkan kedalam gerakan. Khittah perjuangan menjelaskan: Kader HMI harus mampu mencermati berbagai pendapat, mampu memilih yang benar dan terbaik (Az Zumar:18), tegas dalam mengambil sikap dan pemihakan atas pilihannya (Al Baqarah : 179), serta tidak terpesona oleh pandangan mayoritas yang menyesatkan (Al Maidah:100). Berdakwah dengan bersungguh-sungguh kepada masyarakat dan bersedia menanggung resikonya. Terutama sekali ditandai dengan kesediaan menyampaikan peringatan (lunak maupun keras) kepada masyarakat, serta mengajarkan ilmu/kebenaran (Ar rad:19-22 dan Ibrahim:52) juga hanya takut kepada Allah (Al Baqarah:197; Ath Thalaq:10).

Dengan demikian,Tafsrir khittah perjuangan harus diinternalisasi dalam nafas perkaderan dan perjuangan setiap kader. HMI harus tegas menyatakan sikap kepada AU bukan ikut membelanya, Sebab alumnilah yang terikat dengan perkaderan HMI baik idealita maupun realita pergerakan HMI saat ini, bukan HMI yang harus menyesuaikan diri dengan dinamika alumninya apalagi dengan kepentingan-kepentingan politik mereka. Sebab jika hal itu terjadi maka kehancuran bagi HMI dan independensinya. Naudzubillah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s