Doa Ustad Coelho

Ilustrasi
Ilustrasi

Seperti biasa sahaya selalu ditemani alphabet-alpahebet yang terjilid pabila kegelisahan mendera. Sembari duduk diam di antara rak-rak dan pemandangan muntahan manuskrip-manuskrip tebal yang berserakan akibat ledakan pencarian kebaruan, kutemukan Paulo Coelho di sela-sela cahaya yang memendar.

Ia hadir dalam kegelisahan dan keragu-raguan yang belakangan sering menggerogoti tindak lakuku. Lembar demi selembar kuselami ikhtiar panjangnya. Tibalah aku di spot ‘doa yang terlupakan’ dari ekpolarasi perjalanan hidup coelho sepenuh-penuhnya.

Sebuah doa yang secara misterius hidup kembali dalam idenya, sementara ia telah melupakannya. Mungkin saja Tuhan baru saja mengabulkan doanya dengan cara yang tak terduga. Alhasil, seperti tersetrum vibarasi positif aku pun lumpuh dalam doa-doanya.

Kata demi kata kuucap hingga tibalah aku dihalaman akhir dari doa-doanya. ‘Amin’. Sebuah doa yang sesaat menyeretku kedalam dialektik metafisika transendental yang terus mendesak bertemu dengan-Nya, mengombang-ambingkanku dalam arus kalimat doa–doa yang menyayat jiwa. Begitu tulus dan cair.

Dan dihadapan wajah tuhan, keragu-raguanku mencapai anti klimaks. Doa itu seolah telah membawaku keluar dari hilir yang deras menuju samudera lepas. Aku puas!

Dalam lorong imani coelho, kutertantang hidup kembali.

Inilah doa tersebut:

Tuhan, lindungilah keragu-raguan kami, sebab keraguan pun sebentuk doa. Keraguan-lah yang membuat kami bertumbuh dan memaksa kami untuk tak takut melihat sekian banyak jawaban yang tersedia untuk satu pertanyaan. Kabulkanlah doa kami…

Tuhan, lindungilah keputusan-keputusan kami, sebab membuat Keputusan pun sebentuk doa. Setelah bergulat dengan keraguan, beri kami keberanian untuk memilih antara satu jalan dengan jalan yang lainnya. Biarlah kiranya pilihan YA tetap YA dan pilihan TIDAK tetap TIDAK. Setelah kami memilih jalan kami, kiranya kami tidak pernah menoleh lagi atau membiarkan jiwa kami digerogoti penyesalan. Kabulkanlah doa kami…

Tuhan, lindungilah tindakan-tindakan kami, sebab Tindakan pun sebentuk doa. Kiranya makanan kami sehari-hari menjadi buah dari segala yang terbaik dalam diri kami. Kiranya kami bisa berbagi walau sedikit saja dari kasih yang kami terima, melalui karya dan perbuatan. Kabulkanlah doa kami…

Tuhan, lindungilah impian-impian kami, sebab Bermimpi pun sebentuk doa. Kiranya usia maupun keadaan-keadaan tidak menghalangi kami untuk tetap mempertahankan nyala api harapan dan kegigihan yang suci itu di dalam hati kami. Kabulkanlah doa kami…

Tuhan, berikanlah antusiasme kepada kami, sebab Antusiasme pun sebentuk doa. Antusiasme-lah yang memberitahu kami bahwa hasrat-hasrat kami penting dan layak diperjuangkan semaksimal mungkin. Antusiasme-lah yang mengukuhkan kepada kami bahwa segala sesuatu tidaklah mustahil asalkan kami sepenuhnya berkomitmen pada apa yang kami lakukan. Kabulkanlah doa kami…

Tuhan, lindungilah kami, sebab Hidup ini adalah satu-satunya cara bagi kami untuk mengejawantahkan kuasa keajaiban-Mu. Kiranya bumi tetap mengolah benih menjadi gandum, kiranya kami bisa tetap mengubah gandum menjadi roti. Dan semua ini hanya dimungkinkan apabila kami memiliki Kasih; karenanya, janganlah kami ditinggalkan seorang diri. Biarlah selalu ada Engkau disisi kami, dan ada orang-orang lain – laki-laki dan perempuan-perempuan – yang menyimpan keragu-raguan, yang bertindak dan bermimpi dan merasakan antusiasme, yang menjalani setiap hari dengan sepenuhnya membaktikannya kepada kemuliaan-Mu.

Amin.

Anies Baswedan dan Bocornya Soal UN

(I)

“Kekayaan utama dan terbesar Indonesia bukanlah sumber daya alam, tapi sumber daya manusia Indonesia. Jika kita manusia Indonesia terdidik, tercerdaskan, dan tercerahkan, maka kita akan sejahtera dan mendominasi dunia.”

(Anies Baswedan)

Hampir tak ada korelasi sebenarnya antara anies baswedan dan bocornya ujian nasional (atau sebuah isu yang dibuat-buat), tetapi memang dalam struktur kuasa Anies Baswedan sebagai Menteri pendidikan dan kebudayaan adalah penanggung jawab penuh dari jalannya Ujian nasinal.

Peraih 100 tokoh intelektual dunia versi majalah Foreign Policy yang terbit di Amerika Serikat pada 2008 silam ia juga masuk dalam 20 tokoh berpengaruh dunia versi majalah foresight yang terbit di Jepang, pada 2010 dan penggagas Indonesia mengajar ini sedang di Uji kapasitasnya sebagai menteri. Namun jika ditelisik hampir tak pernah ada soal ujian nasional yang tak pernah bocor. Setiap tahun relative banyak peserta UN yang mendapat soal dan jawaban dari hasil bocoran. Tapi, dalam kasus UN kali ini media selalu membesar-besarkan problem yang selalu kecil (dari 11.730 paket Ujian nasional yang bocor 30 Paket jika dipersentasikan hanya 0,025%).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Anies Baswedan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Anies Baswedan

Lantas siapa yang mesti bertanggung jawab dalam kasus soal Ujian bocor ini?

Pertama, yang paling bertanggung jawab dalam hal ini pihak pemenang tender penggandaan, pencetakan, dan pendistribusian soal UN. Inilah pihak pertama yang patut diduga sebagai sebab musabab bocornya soal UN.

Kedua, adalah Oknum yang mengopload dokumen UN ke dunia maya dalam situs google drive.

Ketiga, adalah oknum siswa yang tak siap menghadapi UN. Memang rasanya kurang adil jika kita menjatuhkan vonis dugaan bersalah kepada oknum siswa yang tidak siap menghadapi UN namun siswa yang tergolong tersebut adalah musabab terakhir yang memperluas informasi bocornya soal UN.

Menjadi menteri adalah kuasa yang sexi dan salah satu karier politik yang banyak diincar akedimisi maupun politisi. Sebagai pendatang baru tentu ia harus membuktikan diri bahwa dia mampu dan bersih, baik di luar atau di dalam kekuasaan. Apalagi politik negeri ini adalah medan politik yang penuh intrik, kompromistis, dan tipu muslihat.

Integritasnya menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan kini sedang diuji, banyak yang meragukan kapasitasnya sebagai pemimpin sebab beliau masih muda dan belum banyak makan garamnya politik Indonesia. walaupun ia memang pernah  menjadi Ketua komite etik Komisi pemberantasan korupsi (KPK), anggota tim seleksi KPU dan Bawaslu, dan anggota sekaligus juru bicara tim delapan KPK.

(II)

“Kombinasi antara integritas tinggi para pemimpin dan optimisme yang solid menjadi penghela gerak Republik ini ke depan.”

(Anies Baswedan)

Anies Baswedan Saat Kunjungannya di HMI Cabang Kendari
Anies Baswedan Saat Kunjungannya di HMI Cabang Kendari

Semoga saja ini hanya Ujian Politik yang mesti dihadapi Anies Baswedan dalam medan politik ke Indonesian, dan saya membuat tulisan ini bukanlah sebuah pembelaan dan pembenaran melainkan coba meluruskan logika sesuai intuisi (kata hati) dan common sense (akal sehat) kita.

Saya juga masih merekam ucapannya dihadapan kader-kader HMI cabang Kendari kala itu bahwa ‘jadilah generasi yang berani bermimpi, berani jalani mimpi itu, dan punya kemampuan untuk menterjemahkannya jadi realita baru’. Dan ia juga menyambangi para anggota muda HMI, bahwa kalian tepat memilih organisasi ini sebagai jalan juang dan perkaderan, sebab dahulu orang-orang yang memimpin negeri ini adalah orang-orang yang keluar dari kawahcandradimuka ini.

(III)

“jadilah generasi yang berani bermimpi, berani jalani mimpi itu, dan punya kemampuan untuk menterjemahkannya jadi realita baru.”

(Anies Baswedan)

Kendari, 17 April 2015

Quo Vadis Provinsi Buton Raya: Administrasi atau Deklarasi

Buton RayaBelum lagi daerah otonomi baru Provinsi Buton Raya itu berdiri, kembali ada hembusan angin segar Provinsi Buton Raya akan di deklarasikan pada Hari Ulang Tahun Provinsi Sulawesi Tenggara (27/04/2015) di Kabupaten Kolaka Timur. Nampaknya Provinsi eks kesultanan buton ini masih menjadi wacana politik yang seksi (ingat setiap yang seksi adalah merangsang) sehingga janji manis dan angin segar selalu dihembuskan dari mulut elite politik untuk mendongkrak popularitas dengan mencuri hati masyarakat hanya untuk melanggengkan status quo dan jualan politik tuk memuluskan hasrat pribadi tuk berkuasa, eksesnya menjadi Buton Raya hanya sebagai ‘kesadaran palsu’ dan sekedar ‘euphoria reformasi’.

Para perumus Buton raya pun masih selalu memainkan old game dengan model old fashioned way tuk menuju pemekaran. Tak heran jika Provinsi Buton Raya ini telah dikumandangkan pendirianya berkali-kali (baca deklarasi) dari Papua hingga Jakarta itu pun hanya dalam ruang silaturahmi keluarga masyarakat buton yang diskusinya terjebak dalam pikiran involutif yang melingkar-lingkar dan hanya berkutat tentang ‘Keakuan’ Buton Raya. Sekarang hampir lebih satu dasawarsa jatuh bangunya rezim politik di Republik ini mulai dari pergantian Bupati/WaliKota, Gubernur, hingga presiden, anak yang bernama Provinsi Buton Raya pun tak pernah Nampak. Lantas apa masalahnya?

Konflik Kepentingan

Tarik ulur mengenai nama anak baru yang tengah hamil tua dalam rahim Indonesia itu sibuk dipertentangkan para elit yang mendaku Bapak Pemekaran, Identitas yang selalu bermain dalam ruang awal pemekaran selalu menjadi masalah klasik yang semestinya tak perlu diperdebatkan. Kendati itu telah selesai, embrio konflik identitas itu telah tumbuh dalam konflik kepentingan. Konflik kepentingan adalah suatu kasus khusus tentang konflik pada umumnya, yang dinyatakan sebagai suatu keadaan dimana golongan-golongan mengejar tujuan-tujuan yang tidak dapat diakurkan. Dalam kasus Buton raya, tujuan-tujuan ini ditetapkan oleh seorang luar sebagai kepentingan-kepentingan sejati dari kelompok-kelompok, dengan tiada menghiraukan seluruhnya atau sepenuhnya apa yang secara tegas dinyatakan oleh kelompok-kelompok itu sendiri sebagai nilai-nilai yang mereka anut.

Detik ini, Inisiasi pembentukan provinsi buton raya terlalu terpola dalam persepsi dan nalar fundamental codes of cultures, dimana konsekuensi dari persepsi ini selalu terfokus pada nalar dan relasi kuasa sehingga dalam perjalanannya buton raya tidaklah merupakan sebuah realitas yang terbentuk dengan sendirinya melainkan melalui proses diskursif dan rekayasa elit. Relasi kuasa tersebut kemudian berwenang menentukan mana fakta-fakta sosial yang terus dapat eksis, bahkan muncul sebagai pemenang dan menjadi mainstream (arus utama) atau mendominasi wajah realitas namun juga ada fakta-fakta sosial dan pengetahuan yang jadi pecundang’ dan terpinggirkan (pheripheri) sehingga ia bisa jadi hanya jadi noktah saja atau malah benar-benar hilang dari wajah realitas.

Konflik kepentingan mesti disudahi dengan mengedapankan atribut Keselarasan dan keterbukaan. Keselarasan dan keterbukaan informasi antara kalangan elit mesti jadi perhatian bersama, bahwa dalam pembentukan provinsi buton raya semua stakholder mesti dilibatkan, untuk tidak dituduh sebagai ‘rekayasa elit’ dan masyarakat tidak terpola dalam struktur kesadaran tempat pelbagai rujukan tindakan dan pikiran elit yang mesti diterima secara taken for granted. Provinsi Buton raya mesti menjadi platform dan pekerjaan bersama (common activity) dan memory of the future seluruh lapisan masyarakat Buton, agar pemekaran bukan saja memberikan hasil yang dikehendaki, melainkan juga berkesinambungan secara lestari.

Aksentuasi administrasi sebuah Jawaban

Dirasakan dalam warsa-warsa terakhir pembentukan provinsi Buton raya mirip dengan konsep negara teaternya –Clifford Geertz, dimana wacana pemekaran hanya diaksentuasikan dalam tontonan panggung-panggung, seluruh upacara merupakan demonstrasi yang diulangi dengan beribu-ribu cara, dengan beribu-ribu citra tentang betapa digdayanya hirarki namun perlu dimaklumi mengapa perlu menggelar setiap acara dari suatu komunitas yang menjadi pendukung utama ideologinya. Selanjutnya, variabel lain yang kiranya sangat penting dan berpengaruh bagi pemekaran adalah aksentuasi administrasi. Aksentuasi diartikan sebagai mengutamakan atau penitikberatan (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia), dan administrasi adalah causa prima dari proses politik yang panjang dari pembentukan provinsi Buton raya.

Jika merujuk undang-undang 32 tahun 2004 tentang pemekaran daerah yang menjadi administrasi syarat pementukan provinsi baru adalah harus meliputi syarat administratif, fisik, dan tekhnis kewilayahan. Syarat administratif tersebut meliputi adanya persetujuan DPRD Kabupaten/Kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan, persetujuan DPRD Provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri, syarat tekhnis mencakup faktor kemampuan ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, sosial politik, kependudukan, luas daerah, pertahanan, keamanan, dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah, dan syarat fisik meliputi paling sedikit lima kabupaten/kota, lokasi calon ibu kota, sarana dan sarana pemerintahan. Kesemua syarat tersebut bersifat akumulatif, artinya keseluruhan dari administrasi tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh.

Reaktualisasi administrasi inisiasi pembentukan provinsi buton raya dirasa perlu sebagai arus utama untuk mempercepat proses pemekaran, Paska lahirnya Buton Tengah dan Buton Selatan tak ada lagi alasan cakupan wilayah kabupaten yang kurang. Semua telah bersatu padu. Sehingga tuntutan syarat-syarat formal pemekaran telah dipenuhi. Memory of understanding mesti segera dilakukan antara kepala-kepala daerah dan DPRD inisiasi pembentuk provinsi buton raya untuk menjadi langkah real agar tidak terjadi lagi kesimpang siuran isu dan wacana yang bisa membawa kembali kearah ‘kebiasan’.

Pemekaran hanya benar-benar berkualitas perubahan, apabila tidak terjatuh menjadi hegemoni. Ia membutuhkan kebersamaan dan sasaran yang jelas. Tanpa adanya kebersamaan dan sasaran yang jelas ia akan menjadi gerakan menantang kemapanan. Buton raya engkau ibarat anak dalam kandungan ibu yang tengah hamil tua, Entah kapan engkau lahir jika hanya dideklarasikan dari panggung satu ke panggung yang lain.

Wandingi: Antara Histori dan Mitologi

Sumber: Reby dalam The Pasarwajo
Permandian Wandingi: https://www.facebook.com/groups/155977176563/
Sejarah selalu menampakkan persepsi-persepsi dari lakonnya. Ibarat Bola Takraw sejarah menunjukkan sebuah kesatuan yang tak utuh butuh tempelen-tempelen persepsi untuk menyatukan sebuah sejarah yang utuh.
Legenda wandingi menampakkan dirinya dalam dua dimensi antara Histori dan Mitologi, sehingga perlu penyatuan-penyatuan realita untuk menceritakan Wandingi. Antara History (sejarah) dan Mitologi memang menyajikan sesuatu kenyataan yang serupa tetapi tak sama. Sejarah sendiri menghadirkan fakta-fakta yang dapat dideteksi dengan metodologi ilmiah sedang Mitologi cenderung mengandung realita metafisis bahkan cenderung menyajikan cerita dongeng.
Hal Ini pun yang terpola dalam pemikiran saya hingga saat ini, menceritakan Wandingi (Permandian Berair Segar di Jantung Ibu Kota Kabupaten Buton) selalu membuat saya merinding, bagaimana tidak kabar burung mengenai ikan tulang, juga cerita ketika memasuki Wandingi mesti  melempar batu beberapa kali, kemudian mandi di permandian wandingi ini tak boleh berbicara bebas sebab akan ada kutukan jika melakukannya, ditambah lagi jika ingin menikmati kesejukan air Wandingi harus melepaskan perhiasan emas dan berlian yang dipakai jika tidak perhiasan itu akan hilang bersama jerninya air wandingi.
Mitologi Wandingi
Istilah Mitologi telah dipakai sejak abad 15, dan berati “ilmu yang menjelaskan tentang mitos”. Di masa sekarang, Mitologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah ilmu tentang bentuk sastra yang mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan Dewa dan makhluk halus di suatu kebudayaan. Menurut pakarnya, Mitos tidak boleh disamakan dngan fabel, legenda, cerita rakyat, dongeng, anekdot atau kisah fiksi. Mitos dan agama juga berbeda, namun meliputi beberapa aspek. Mitos adalah cerita prosa rakyat yang ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain (kahyangan) pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Mitos juga disebut Mitologi, yang kadang diartikan Mitologi adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan bertalian dengan terjadinya tempat, alam semesta, para dewa, adat istiadat, dan konsep dongeng suci. Jadi, mitos adalah cerita tentang asal-usul alam semesta, manusia, atau bangsa yang diungkapkan dengan cara-cara gaib dan mengandung arti yang dalam. Mitos juga mengisahkan petualangan para dewa, kisah percintaan mereka, kisah perang mereka dan sebagainya.
Dari berbagai sumber dan dari Pementasan-pementasan Budaya tentang Wandingi saya menarik kesimpulan bahwa Wandingi adalah sebuah mitologi yang mengisahkan Kutukan Pernikahan bersaudara dari dua anak yatim piatu kakaknya namanya Latehe dan adiknya Wandingi.
Seperti yang diungkap Reby “Latehe mengawini adiknya, dan dikampung terjadi banyak musibah. Orang-orang kampung mengenalnya dengan sebutan pahalata. Orang tua kampung berdoa minta petunjuk pahalata itu ada dimana. Ternyata, Latehe dan Wandingi. Agar kampung tidak mendapatkan musibah yg lebih lagi dan bisa membahayakan masyarakat karena azab perkawinan sedarah itu, pasangan pahalata itu harus dihukum, hukumanya dihilangkan nyawanya jika tidak akan banyak masyarakat yang terbunuh karena musibah terus menerus. Kedua saudara kandung tersebut berlari sambil berpegangan tangan, mereka dikejar dan Wandingi jatuh di gua pada saat dilemparkan tombak. Latehe terus lari dan terjatuh di gua juga, yang sekarang juga gua tersebut muncul mata air.” (Reby dalam The Pasarwajo).
Mitologi menyeramkan lainnya dari Pemandian Wandingi  adalah Ikan Tulang yang konon hidup di permandian Wandingi, hingga saat ini pun saya belum pernah melihatnya, namun menurut Reby dalam The Pasarwajo para penyelam pernah melihatnya. Ikan yang telah hidup dalam cerita masyrakat namun kita tak pernah melihatnya tentu membuat pemikiran menjadi seram. Jika saya ilustrasikan dalam metamorfosa ilmiah seperti inilah bentuk ikan tulang tersebut.
Ikan Tulang
Ikan Tulang
Nama ikan ini adalah Ikan Goby Transparan bentuknya memang seperti kaca sehingga tulangnya kelihatan transparan. Hidupnya di Laut Mesir. Bagaimana dengan kemungkinan jika ikan ini hidup di air tawar seperti di Permandian Wandingi. Masih perlu kajian ilmiah lebih lanjut.
Kisah lain dari Mitologi Wandingi adalah juga satu cerita dahulu ada orang yg bernama La Ncakuri yang mau menguji apa benar wandingi itu kramat atau tidak, kemudian dia mengeluarkan kata-kata penghinaan terhadap wandingi dan selanjutya apa yg terjadi? Pada saat dia mandi, melompat dari batu ke air ternyata dia tidak muncul lagi di permukaan air wandingi, setelah tujuh (7) hari baru muncul di mata air pasar lama dalam keadaan hidup. Kemudian dia pulang kerumahnya dan ternyata keluarganya mengira kalau La ncakuri sudah meninggal dan sementara membuat peringatan hari ke tujuh (7) La ncakuri. Pada saat la ncakuri tiba d rumahnya, semua tamu yg ada di situ lari ketakutan,namun akhirnya La ncakuri meninggal juga karena memakan makanan yang disiapkan untuk peringatan hari ke tujuh (7) dia sendiri (Gapra dalam The Pasarwajo).
Sebagaimana mitologi, mitologi selalu memberikan pesan moral dimana mitologi itu Tumbuh dan terkadang mitologi menjadi konsepsi keyakinan masyarakatnya. Sebagaimana Mitologi Yunani dan India dengan Dewa-dewanya yang telah menjadi keyakinan masyarakatnya. Di Buton pun demikian. Seperti itu yang diungkap seorang antropolog Buton Tasrifin Tahara bahwa Sejarah di Buton banyak mengandung Mitologi. Terlepas dari mitologi, sudah menjadi tugas kita untuk mengangkat sejarah-sejarah dan mengungkap kebenaran mitologi lokal agar bisa dikenal dan dijadikan entitas dan identitas kekayaan budaya dan mode pariwisata sebagai tambahan kekayaan daerah.
Wassalam Semoga Bermanfaat.
Kendari, 03 November 2014

aku itu AKU

Pagi ini kusajikan sekelumit karya cemerlang Mitsuo Aida (1924-1991), penyair dan ahli kaligrafi asal Jepang. Untuk sekilas mengingatkan kita akan pentingnya keluguan hati. Sebab, Kegilaan modernitas terkadang menghapus hal-hal yang paling hakiki dan memaksa kita untuk menjadi orang lain, sehingga kita lupa tentang eksistensi diri yang paling hakiki. Bahwa aku tetaplah aku, tak pernah menjadi dia.

—–

Karena telah menjalani hidupnya sepenuh-penuhnya

Rerumputan yang kering gersang tetap menarik perhatian orang-

Orang yang berlalu lalang.

Bunga-bunga sekadar berbunga,

Dan ini mereka lakukan sebaik-baiknya.

Bunga tali putih yang mekar tak terlihat di lembah,

Tak butuh menjelaskan dirinya pada siapa-siapa;

Dia hidup hanya demi keindahan.

Namun kata “hanya” itu tak diterima manusia.

Andai tomat-tomat ingin menjadi melon,

Betapa menggelikannya.

Heran sungguh saya melihat,

Begitu banyak orang ingin menjadi yang bukan diri mereka;

Apa gunanya menjadikan diri sendiri bahan tertawaan?

Tak perlu kita selalu berpura-pura tangguh,

Tak guna membuktikan sepanjang waktu bahwa semuanya baik-

Baik saja,

Usahlah memikirkan kata orang,

Menangislah kalau perlu,

Menumpahkan air mata itu baik

(sebab hanya dengan begitu kita akan bisa tersenyum lagi).

—–

Mitsuo Aida

Mitsuo Aida (1924-1921)

The Middle-Class: Rising Confidence

Prof. Firmanzah Indonesia’s economy has had its fair share of ups and downs for over a decade  now. After being hit by the Asian financial crisis in 1998, the economy has by all  measures recovered more rapidly than earlier predicted. While its economic  growth rates in 1999 crashed to melting point levels negative 13%, it has since  then managed to crawl its way out of the morass to stable levels. In fact, in 2011  the economic growth situation took off dramatically, enjoying a staggering rate  of 6,5% in the midst of global and financial crises. In the first semester of 2012, the economic growth rate was 6,3%, the second highest among G20 countries after china.

Indonesia’s economic stability is demonstrated by its steadily increasing GDP per capita, up by more than 200% since 2004 ($1,179) to 2011 ($3,543). This is the main factor behind the country’s rising-middle class. Within ASEAN countries, Indonesia has unique growth model that emphasizes the domestic rather than international export market. Moreover, the government had adopted a “keep buying” policy to promote domestic purchasing power. Low inflation rates, direct-transfer funds the poor and other pro-poor and pro-job policies are some examples of this “keep buying” policy. Despite such progress, the economy still provides ample room to improve in the coming decade.

Although there is no standard definition for the middle-class, some international institutions and thinktanks have provided basic indicators for reference. According to the Asian Development Bank, a middle-income society is defined as those who spend $2 to $10 per person per day. Recently, a McKinsey report defined middle-income as those who spend daily within the range of $2 to $20 per person. Based on these indicators, Indonesia is expected to have more than 135 million defined as middle-income in 2030, up from 45 million in 2012. With this remarkable growth, the new consumer-class will require new products and services, thus creating new demand for secondary and luxury products and services.

The emergence of the middle-class in Indonesia creates an attractive market for a variety of products, ranging for retail and consumers goods to financial services. This group of consumers will also spend a larger proportion of their income on non-basic needs, switching from basic consumption to more expensive, reliable, quality-oriented, lifestyle, entertainment and green products. At the same time, demand for new varieties of financial services will increase as the middle-class expands. There is already significant evidence of an increase in financial services, ranging from credit, insurances and other financial investments.

Once the demand side has grown significantly, the government is set to embark on a pursuit to balance the efficiency of national competitiveness (supply side). By launching the Master Plan for Acceleration and Economic Expansion (MP3EI), the government is on a mission to improve the quality of the supply side. Production facilities efficiency and logistic cost reduction are the locus of acceleration planning of infrastructure development.

The supply side is being accelerated to provide high-quality products needed by the growing demand of the consumer class. As such an ambitious expansion has its budget limitations, the government is now actively promoting and attracting domestic and foreign direct investment to support the acceleration of industrialization and infrastructure development.

With the existing and potential trend of growing middle-class in place, investors are reassured that their products and services can be absorbed by huge domestic demands. And they will see that their investments, anywhere in Indonesia, will be transformed into the projected high economic growth level. In fact, the Indonesia Investment Coordinating Board (BKPM) has reported that both national and international direct investment realization has already reached Rp.229,9 trillion, an increase of around 27% over the same period in 2011.

The unique equilibrium between demand side (middle-class consumption) and supply side improvement (infrastructure and industrialization) is therefore believed to be the source of Indonesia’s sustainable growth. And as it continues to reach higher equilibrium levels, it also raises the confidence of economic actors towards the economy in the future.

Rekonstektualisasi Pemikiran dan Pergerakan HMI

BAB I

MUQADIMAH

 Latar Belakang 

       Membincang himpunan mahasiswa Islam (HMI) tak pernah lepas dengan wacana keIndonesian. Kelahiran HMI yang hampir sama dengan kelahiran Negara ini secara dejure seolah-olah membuat HMI dan Indonesia adalah saudara kembar ataupun tidak salah jika dikatakan HMI dan Indonesia ibarat sekeping uang logam yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kelahiran HMI di tanggal 4 februari 1947 dan kelahiran Indonesia di tahun 17 agustus 1945 membawa dinamika tersendiri sejak lalu hingga dalam konteks kekinian.

        Ibarat saudara kembar, melemahnya kondisi Negara dalam wilayah-wilayah sosio ekonomi dan politik dalam berbangsa dan bernegara ikut pula mempengaruhi melemahnya HMI, begitupun sebaliknya. Carut marut dalam bernegara diikuti pula dengan carut marut dalam perkaderan dan perjuangan HMI itu sendiri. HMI yang dahulu menjadi harapan masyarakat indonesia[1] kini mengalami degradasi tidak hanya pada perkaderannya melainkan pula pada perjuangannya. pergeseran arah perjuangan hal ini disebabkan tentunya oleh bagaimana HMI telah lupa raison de etrenya (bagaimana proses menjadinya).

       Sedang dalam konteks ideologinya sendiri yakni nalar keislamannya sudah mulai memudar bagi kader kadernya sehingga tidak jarang jika HMI yang dahulu disebut himpunan mahasiswa islam kini masyarakat mengenalnya dengan Himpunan Mahasiswa Indonesia[2]. Model gerak dan perjuangan HMI pun dewasa ini semakin pragramatis praktik dan tenggelam dalam tarian-tarian politik baik itu dari kalangan politikus KAHMI maupun gerbong kepentingan politik lain. Seperti yang diungkap Azumardi Azra bahwa HMI terlaru larut dalam wacana-wacana politik praktis. Dalam arti kata lain Fahri Ahli mengungkapkan bahwa sebagai sebuah organisasi, HMI telah menjadi tangga bagi proses mobilitas vertikal sebagian besar pendukungnya.[3]Bobot kualitatif yang terkandung di dalam HMI inilah yang menyebabkan organisasi ini gagal mengelak kecenderungan-kecenderungan dan pergeseran-pergeseran kekuasaan dan politik yang berlangsung pada tingkat nasional.

        Dalam konteks kekinian HMI telah kehilangan elan vitalnya yakni komitmen keislaman, etos intelektual, independensi, dan keberpihakan kepada rakyat akibat tidak ada lagi ruang yang kondusif bagi upaya membangun wacana yang relevan dengan agenda reformasi bangsa saat ini.[4] Sehingga dibutuhkan sebuah upaya untuk mereposisi kembali pemikiran-pemikran HMI dalam lanskap-lanskap intelektualitas dan keislaman.

        Agus Salim Sitompul seakan menguatkan kelemahan-kelemahan HMI tersebut. Seperti yang diungkap Sitompul terdapat 44 indikator kemunduran HMI diantaranya adalah (1) menurunnya jumlah mahasiswa baru masuk HMI, (2) HMI semakin jauh dari mahasiswa, karena tidak dapat mengembangkan student need dan student interest secara professional, (3) pola perkaderan HMI yang dirancang pertengahan abad XX sudah ketinggalan zaman dan tidak sesuai lagi dengan tuntutan kontemporer, (4) HMI dan kader-kader penerus kurang mampu mengikuti jejak-jejak pendahulunya; (5) kurang berfungsinya aparat HMI seperti Badko, cabang, dan komisariat, (6) lemahnya manajemen organisasi karena sudah ketinggalan zaman, (7) kurangnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan pengamanal ajaran islam di kalangan anggota dan pengurus. Hampir-hampir tidak ada perbedaan pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran islam dari seorang anggota HMI sebelum dan sesudah masuk HMI, (8) belum optimalnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan anggota dan pengurus HMI dihampir semua tingkatan kepengurusan tentang ke-HMIan dan keorganisasian, (9) follow up perkaderan tidak berjalan sebagaimana mestinya, (10) HMI jarang melakukan evaluasi terhdap perjalanan organisasi dengan segala aktivitas sehingga tidak diketahui secara pasti sampai sejauh mana keberhasilan HMI dalam melaksanakan perjuangannya dan tidak diketahui secara pasti faktor-faktor penghambatnya.[5]

        HMI yang mengklaim diri sebagai Anak Umat dan Anak Bangsa memberi konsekuensi bahwa HMI bertanggung jawab atas kelangsungan kehidupan umat islam dan bangsa Indonesia. Sedangkan untuk ikut berperan dalam seluruh proses kelangsungan kehidupan umat dan bangsa diperlukan ketajaman untuk menangkap problematika yang sedang akan dihadapi di masa depan.

 Fokus Masalah 

       Sehingga berdasarkan latar belakang yang penulis utarakan maka perlu digariskan sebuah rumusan masalah untuk memetakan lanskap kontekstual tersebut.

  1. Bagaimana merekonstektualisasi pemikiran dan pergerakan HMI?
  2. Ikhtiar memenangkan HMI di hati umat adalah Upaya memenangkan Indonesia di Pentas Global, Bagaimanakah?

BAB II

PEMBAHASAN 

       Sudah menjadi watak sejarah yang dipentaskan umat manusia selama ini, bahwa setiap peristiwa yang terjadi di sudut manapun belahan bumi tidak bisa dilepaskan dari kondisi makro percaturan kehidupan manusia ditingkat internasional. Peristiwa yang terjadi di wilayah lokal sedikit banyak dipengaruhi oleh situasi makro yang sedang berkembang. Hal ini akan semakin menyata pada perkembangan peradaban umat manusia dalam dekade terakhir ini dan sepertinya akan semakin jelas pada masa-masa yang akan datang.

Kembali ke Khittah, Upaya Rekonstukruktualisasi Pemikiran dan Pergerakan HMI

       Dr.syafii Ma’arif mengemukakan bahwa insentif politik bagi HMI jauh lebih besar dari pada insentif intelektual. Dua paradigma besar dalam HMI yakni politik dan intelektual masih sering bercokol dalam sikap HMI. Menurut syafii “keinginan untuk menyeimbangkan dua kutub di HMI, orientasi intelektual dan orientasi politik masih cukup berat bagi HMI.[6] Sedang anas urbaningrum berujar bahwa intelektualisme perlu disuburkan dalam tradisi HMI adalah untuk sejauh mungkin mengurangi reduksi-reduksi kebenaran yang ada dalam HMI. Jika intelektualisme hilang maka terjadilah anomali-anomali dalam HMI yang membuat ambruk organisasi HMI. Suburnya tradisi intelektualisme merupakan lahan subur untuk menghidupkan independensi etis maupun organisatoris. Keterkikisan nilai kebenaran saat terlalu terjebak dalam permainan politik praktis akan semakin kecil terjadi.[7]

       Pada posisi ini HMI seharusnya kembali menguatkan wacana-wacana intelektualnya. HMI harus menjadi intelektual tercerahkan ‘rausyan fikr’ meminjam istilah Ali syariati. Kecendrungan HMI dalam berpolitik sebenarnya adalah sebuah penghianatan intelektual. Seperti yang diungkap Julian benda ‘kalau intelektual bercampur dengan atau menjadi bagian dari kekuasaan, ia telah berkhianat. Intelektual harus setia pada nilai-nilai abadi yang non kepentingan (politik). Sementara politik adalah sesuatu yang sangat terkait atau sarat dengan kepentingan.[8]

       Muatan intelektual yang sarat dengan pergulatan pemikiran dan keberpihakan kepada kebenaran seharusnya menjadi nafas gerakan HMI serta jiwa kemahasiswaan yang penuh semangat perjuangan dan kritisisme menjadi ruh gerakan HMI sebagai kekuatan organisasi pemuda terbesar di Republik Ini.[9]        Meskipun dalam Negara modern, hampir dapat dipastikan bahwa tidak ada individu atau kelompok yang dapat melepaskan diri dari pengaruh politik. Setidaknya dalam beberapa bentuk proses politik, seperti konflik, manipulasi sumber kekuasaan, paksaan dan tawar menawar politik yang mempengaruhi individu atau kelompok dalam waktu tertentu. Intensitas keterlibatan individu dan kelompok dalam proses politik tergantung pada posisi dimana para aktor politik berada. Artinya HMI harus mampu memainkan politik ‘nilai’ sesuai mahzab HMI yang kiranya tidak mempengaruhi independensi organisatoris.

       Argumentasi Akbar Tandjung cukup merepresentasikan politik ‘nilai’ tersebut. Akbar menganjurkan agar HMI menjadi organisasi yang dapat melahirkan kader-kader politik yang mandiri baik dari kepentingan partai politik tetapi juga mandiri dari kepentingan para alumninya. Menurut Akbar bahwa kader-kader HMI diharapkan bisa muncul dalam perpolitikan nasional sehingga bisa turut membangun wajah politik nasional yang mempunyai etika dan rasa solidaritas yang tinggi.[10]

       Dalam konteks keislaman HMI pun sudah mengalami pendangkalan. Hanya sedikit karya ilmiah yang menguraikan HMI adalah bagian integral dari pergerakan islam. Meski dalam catatan sejarahnya HMI lahir dari keresahan atas kondisi keislaman, kebangsaan dan perguruan tinggi kemahasiswaan. Artinya meski tidak ditemukan suatu ketimpangan sosial yang sedemikian parah pada anatomi HMI dipandang perlu untuk menghadirkan HMI sebagai institusi yang tersemangati oleh ideologi tauhid untuk membumikan risalah-risalah tuhan. Dengan kata lain HMI harus menginternalisasi indeologinya seperti yang tertuang dalam konstitusi HMI, ‘organisasi ini berasaskan Islam’ artinya Islam jangan dijadikan sebagai slogan pemanis bibir melainkan harus diinternalisasi oleh setiap kader-kadernya.

       Sebagai organisasi kader HMI mempunyai tanggung jawab menyelenggarakan perkaderan yang mengarah kepada tercapainya tujuan HMI, yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.[11]

       Merujuk pada konstitusi HMI tersebut perkaderan HMI harus diorientasikan pada pergulatan visi tentang Indonesia ideal ini artinya nafas intelektualisme harus terus hidup didalam HMI. Wacana untuk mentransformasikan nilai-nilai islam kedalam kehidupan bangsa, dan akhirnya dianggap nilai bersama. Pembentukan keindonesiaan merupakan tugas kemusliman. Juga pergulatan dan perjuangan untuk mencapai demokratisasi mesti melekat erat dalam gerak HMI.

Menguatkan Civil Society, Ikhtiar Memenangkan Indonesia ke Pentas Global

       Hampir dapat dipastikan bahwa tidak ada satupun proses transformasi sosial di berbagai Negara di belahan dunia ini terjadi tanpa keterlibatan kaum muda. Kaum muda terutama sektor mahasiswa sebagaimana ungkap Adi Suyadi Culla memang menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan dan kemajuan bangsa Indonesia.[12] Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah bagian dari fragmen cerita tentang kepeloporan kaum muda mahasiswa.

     Bagi HMI, masyarakat sipil adalah ikon masyarakat yang dicita-citakan. Membela, memberdayakan serta memandirikannya dipandang sebagai tanggung jawab sosial yang mutlak untuk ditunaikan. Terutama karena, selama orde baru, peran, partisipasi dan bahkan eksistensinya sengaja dilemahkan oleh rezim yang berkuasa. Hal yang memang dilakukan bukan tanpa alasan, mengingat pengalaman di sejumlah Negara, kekuatan Civil Society[13] senantiasa menjadi ancaman bagi status quo. Apalagi jika masyarakat sipil tersebut berada dalam kondisi yang relatif kuat dan mandiri, maka tentunya ancamannya semakin besar pula.

     Atas dasar kenyataan tersebut, HMI kiranya perlu menseriusi persoalan masyarakat sipil ini. Dan selanjutnya, secara berani mengambil peran untuk memperjuangkan kedaulatan dan tegaknya hak-hak mereka. Pilihan gerakan ini tentunya bukanlah perkara main-main dan atau untuk sekedar “tampil beda” saja. Sekali lagi tidak. Sebab, hal ini tidak lain adalah misi profetik yang dahulu pernah diemban oleh para nabi yang suci, termasuk Rasulullan Saw.

            Sebagaimana Ali Syariati Islam adalah agama pembebas, agama yang menghendaki terjadinya transformasi masyarakat ke arah kemerdekaan, keadilan, kemanusian dan kebenaran. Secara praksis agenda penguatan Civil Society dapat dilakukan HMI paling tidak, melalui aksi-aksi kultural (cultural action) berupa: Pertama, pencerahan. Pencerahan dilakukan dalam rangka mengajak segenap elemen masyarakat untuk dapat berfikir lebih kritis, memahami posisi dan peran mereka sebagai warga Negara dan menjadi pelaku aktif (partisipatif) dalam setiap proses pengambilan dan pemutusan kebijakan, utamanya yang menyangkut hajat orang banyak.

       Pencerahan sosial ini kiranya penting untuk dicanangkan, mengingat, salah satu problem besar yang menghambat penegakkan demokrasi di Indonesia dewasa ini, diantaranya adalah belum tumbuhnya kesadaran kritis masyarakat. Padahal, kesadaran kritis ini penting dalam rangka membangun pola hubungan yang rasional, sederajat dan saling menghargai antara masyarakat sipil dengan masyarakat politik, tanpa harus terjadi penindasan satu sama lain.

     Dan kedua, melakukan pembelaan terhadap hak-hak masyarakat. Masyarakat sebagai satu entitas sosial yang tidak jarang diposisikan secara diskriminatif oleh Negara harus menjadi segmen garap pembelaan HMI baik secara ekonomi, politik, sosial, hukum, intelektual, budaya, maupun spiritual. Harus ada semacam ikhtiar kolektif HMI untuk mengangkat harkat dan martabat setiap entitas sosial agar tidak selamanya mengalami pendzaliman struktural. Disamping pula, mendapatkan akses dan peran yang lebih baik dalam kehidupan demokrasi di Negara kita.

     Akhirnya, aksi-aksi kultural ini tentunya akan menjadi sangat bermanfaat bagi upaya penguatan civil society jika dilakukan secara simultan dan sistematis, hingga benar-benar memiliki kemandirian dalam semua dimensi kehidupan.[14]

 BAB III

KESIMPULAN 

  Setelah dikemukakan deskripsi dan analisis pada bab-bab terdahulu, maka dapat disimpulkan:

  1. Bermodalkan kemampuan reinterpretasi dan konstektualisasi ajaran Islam, HMI harus berusaha menampilkan perkaderan yang memakai pola radikalisasi intelektual, untuk dapat membaca kekeliruan masa lalu maupun kefatalan masa kini untuk kejelasan arah dimasa mendatang. HMI harus bisa kembali ke pangkal jalan. Orang bijak mengatakan bila anda menyadari telah menyimpang maka kembalilah ke pangkal jalan (khitah). Kembali ke pangkal jalan (khitah) dimaksudkan kembali kepada cita-cita besar HMI untuk menebarkan “keimanan, keislaman dan keihsanan”. Tidak lain adalah agar HMI kembali ke raison de etrenya (bagaimana proses menjadinya) tidak lain tidak bukan agar HMI dikelola berdasarkan sistem (ideology) yang telah disepakati secara nasional dan tidak melenceng dari idealisme didirikannya pada tanggal 5 Februari 1947 sebagai upaya menjawab rekonstektualisasi pemikiran dan pergerakan HMI.
  2. HMI diakui sebagai organisasi lembaga milik warga yang berdiri bukan oleh Negara, melainkan oleh warga dengan dual jargonnya Ke islaman dan KeIndonesiaan dengan begitu HMI harus memberi catatatan kritis untuk Negara, HMI juga sebagai civil society harus melakukan penguatan-penguatan cultural di tingkatan akar rumput dan bersama-sama dengan elemen kebangsaan lainnya untuk memperkuat civil society di Indonesia. Sebagaimana tujuan HMI…ikut bertanggung jawab pada terciptanya masyarakat adil makmur yang diridhoi allah swt. Sebagai organisasi yang berorientasi kerakyatan, maka saat ini, HMI harus memperteguh kekuatan civil society dalam menggelindingkan demokratisasi di negeri ini. Bukan menjadi penjaga setia kekuasaan yang tidak mampu kritis dan tidak peduli pada tuntutan rakyat. HMI harus bisa menjadi ‘Penyambung Lidah Rakyat’ seperti istilah Bung Karno yang tahan banting dan godaan, bahkan siap menderita. Insya Allah.

Penulis Adalah Ketua HMI Cabang Kendari 2007-2009

End Note

[1]Jendral Sudirman dalam Sambutannya ketika milad I HMI lihat Victor Tanja, Himpunan Mahasiswa Islam: Sejarah dan Kedudukannya Di Tengah Gerakan-Gerakan Muslim Pembaharu Di Indonesia, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1991.

[2]Beberapa kali dalam media baik cetak dan elektronik menyebutnya Himpunan Mahasiswa Indonesia

[3]Lihat Fahri Ahli dalam Kata Pengantar HMI dan Rekayasa Asas Tunggal Pancasila

[4]Ibid, hal.12

[5]Solichin, HMI Candradimuka Mahasiswa, hal.69

[6]Misbah shoim Haris, Spiritualitas Sosial Untuk Masyarakat Beradab, hal.85.

[7]ibid

[8]Lihat, Alfan Alfian, Menjadi Pemimpin Politik: Perbincangan Kepemimpinan dan Kekuasaan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,2009, hal 283-285.

[9]Misbah Shoim Haris, Spiritualitas Sosial Untuk Masyarakat Beradab, hal.85.

[10]Akbar Tanjung, “HMI agar jadi organisasi kader politik yang mandiri, (Jakarta, Kompas, 17 Januari 2000), dikutip langsung oleh Sidratahta, Op.Cit. hal.12.

[11]Pasal 5 AD ART HMI

[12]Culla, “Patah Tumbuh HIlang Berganti; Sketsa Pergolakan Mahasiswa Dalam Politik dan Sejarah Indonesia (1908-1998), PT.Raja Grafindo,1999, dikutip langsung Itho Murtadha, Tranposisi Islam Menegaskan Islam Sebagai Basis Kemajuan Sosial, hal,120.

[13]Istilah civil society atau masyarakat sipil atau masyarakat madani pertama kali dicetuskan oleh Adam Ferguson dalam bukunya An Essay On The Hisory of Civil Society untuk menggambarkan suatu masyarakat yang terdiri dari lembaga-lembaga otonom yang cukup mampu mengimbangi kekuasaan Negara, Misbah Shoim Haris, Op.Cit.hal.78

[14]Lihat, Itho Murtadha, Transposisi Islam Menegaskan Islam Sebagai Basis Kemajuan Sosial, Palu: HMI Press Palu, 2007, hal.138-140.

DAFTAR REFERENSI

Alfian, Alfan. 2009. Menjadi Pemimpin Politik: Perbincangan Kepemimpinan dan Kekuasaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

___________. 2013. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) 1963-1966 Menegakkan Pancasila di Tengah Prahara. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Almandari, Syafinuddin. 2003. HMI dan Wacana Revolusi Sosial. Makassar: Penerbit Hijau Hitam

Haris, Misbah. 2003. Spirutualitas Sosial Untuk Masyarakat Beradab. Jakarta: Penerbit Azura.

Hasanuddin. 1996. HMI dan Rekayasa Asas Tunggal Pancasila. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mukhtar, Sidratahta. 2006. HMI dan Kekuasaan. Jakarta: Prestasi Pustaka

Murtadha, Itho. 2007. Transposisi Islam: Menegaskan Islam Sebagai Basis Kemajuan Sosial. Palu: HMI Press Palu.

Rizky, Awalil. & Muzakir Djabir. 2006. HMI (MPO) Dalam Transisi. Jakarta: Pengurus Besar HMI.

Solichin. 2010. HMI Candradimuka Mahasiswa. Jakarta: Sinergi Persadatama Fundation.

Tanja, Victor. 1991. Himpunan Mahasiswa Islam Sejarah dan Kedudukannya Di Tengah Gerakan-Gerakan Muslim Pembaharu Di Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Van Peursen. 1999. Strategi Kebudayaan. Jogyakarta: Kanisius.

 

Jarak Neraka ke Surga…?

Kartika
Model: Kartika Waode

Berapa jarak neraka ke surga?

Setengah inci cuma….

Menurut sistem Lobachevskii
Jarak adalah garis lengkung kurva bibirnya.
.
Jika saya definisikan ‘jarak’ menurut sistem Lobachevskii , sungguh jarak neraka ke Surga itu begitu dekat, hanya dengan melihat indah bibirmu !!!

***

Kendari 040117

…Akhirnya MOHABBATEIN

Meski saya banyak membaca tentang hukum, dan banyak berbuat dan bertindak mengadvokasi sewaktu masih di lingkungan aktivis dulu, saya tak bisa disebut sebagai pakar hukum. Saya hanya berpengetahuan hukum tapi tak berilmu tentang itu.

Untuk urusan Hukum, pasti dan jelas saya selalu melata dihadapmu duhai Istriku Fitria Musrady Zaini. Sepenuh-penuhnya saya serahkan padamu.

Tetapi malam ini saya masih mau nonton Berita, kamu mau nonton sinetron Filipina Pangako Sa’Yo. Saya ganti ke chanel Komedi, eh kamu milih nonton De academi asia. Saya nonton siaran olahraga kamu malah nonton seputar fashion.

Saya ngotot, eh kau tuntut saya dengan pasal-pasal perbuatan tidak menyenangkan karena berbuat jahat terhadap kemerdekaan orang.

***

Saya : “Pasal berapa itu?” Tanyaku padanya.

Dia   : Pasal 335 KUHP, jawabnya singkat

Saya : Apa bunyinya itu?

Dia   : “Diancam dengan pidana penjara paling lama satau tahun atau denda paling      banyak tiga ratus rupiah, “Barangsiapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri atau orang lain. ”

Saya  : …/////?/?/?/

***

Ya, terpaksa mengalah lagi. Akhirnya kami bersama nonton Mohabbatein !!!!

😀 : D 😀

 

Advokat Fitri
Ini nih Mantan Pacar Saya Saat Pakai Baju Kebeserannya. He he.

Martabak versus Makassar Baklave

CARA mereka memaknai hidup adalah hanya dengan mempertahankan diri. Dan cara tempuhnya adalah dengan begadang dalam berdagang.

Buka sejak senja hingga matahari membuka mata, dilakoni oleh beberapa pemuda ini. Menjajahkan terang Bulan dan martabak adalah profesi yang bisa dibilang menantang zaman, seiring berubahnya selera lidah manusia. Mereka dituntut lebih adaptif untuk memainkan pisau dan alat gorengnya, ditambah sedikit improvisasi racikan rasa dan rempah pada jualannya.

Jika tidak Makassar Baklava akan menggusur mereka, dan lapakannya. Dimana sebenarnya tak ada beda antara Martabak dan Makassar Baklave.

Orang rela mengantri hanya untuk mengantongi Makassar Baklave ketimbang martabak. Mengapa?

Disini, saya menantang mereka untuk beradaptasi, sebagaimana apa yang dikata Darwin yang bisa survive di muka bumi ini bukanlah orang-orang yang kuat melainkan adalah orang-orang yang adaptif.

Selamat bekerja, penjajah Martabak. Beradaptasilah!!!

 

Penjual Martabak Kendari
Penjual Martabak di Salah Satu Kota Kendari

BAHASA

Suatu ketika bahasa lah yang memperumit kita. Dulu ada orang bijak berkata batas duniamu adalah batas bahasamu.

Namun itu kemudian jadi rumit, ketika BAHASA diperhadapkan dalam proses pemaknaan. Kita tentu pernah menghadapi masalah-masalah bahasa. Alih-alih bisa menjembatani sebuah perbedaan malah terkadang bisa memperburuk keadaan. Karena pemahaman seseorang tidaklah sama dalam memahami sebuah objek bahasa.

Kita pernah ribut lewat percakapan telpon, atau malah ribut mengartikan sebuah tagline reklame, dan pada akhirnya kita kembali merenung apatah artinya sebuah bahasa?

Bahasa bukan lagi ucapan, tindakan, perkataan, pemikiran yang dilisankan. Melainkan struktur yang termanipulasi oleh subyeknya sendiri, lalu menjadi seperti air bah yang meluap, mengalir tiada batas.

Karena tak ada standar bahasa dalam pemaknaan, segalanya selalu kan berbias.

Yang paling besar adalah gaung 212, atau 313, yang sekiranya adalah masalah bahasa.

Sungguh adakah solusi dari sebuah bahasa, atau lebih baik memilih membisu dengan sebuah isyarat yang begitu jujur memaknai sesuatu.

Itu pernah terjadi, ketika kita sedang tak beradab, justru di massa itu mereka tenang menenangkan, ketimbang sekarang berperadaban tetapi hidup penuh kesebalan.

Apalagi ketika struktur kuasa tampil sebagai penerjemah dan media sebagai pengalih bahasa, sungguh bahasa begitu kacaunya.

Selesai.

 

 

 

Kendari 3103217

<img src="http://path-mkgapi.kakao.com/dn/path_classic/moment_photos/bda8dd9e-6aef-4431-86e4-77fd34cef962/original.jpg" />
Einstein Tentang Hakekat Ilmu 

BARANGKALI terciptanya pagi bukan hanya sebuah penanda bahwa hari telah dimulai , tetapi lebih kedalam agar manusia memahami penciptanya.

Proses memahami bukanlah hanya sebuah penanda bahasa akan halnya paham yang diubah menjadi kata kerja ‘memahami’ melainkan adalah sebuah ritual yang melibatkan akal dan juga hati.

Memahami bukanlah mengerti, tetapi lebih kepada hidup dalam objek yang dicari, dengan begitu kita lebih tenggelam dan menyatu lalu akhirnya lahirlah ilmu dan pengetahuan.

Tetapi Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita?
https://sosiocritica.wordpress.com/2014/10/19/einsten-tentang-hakekat-ilmu/
Selengkapnya
View on Path

Menger-tilah arti Sahabat

Saat seorang sahabat melakukan hal yang tidak berkenan di hatimu sekalipun, dia tetaplah sahabat.

Petuah itu terukir di sayap sebuah patung burung emas, patung itu dibuat oleh Genghis Khan seorang raja kharismatik asal Mongol, asia utara. Patung itu dibuatnya untuk menyesali perbuatannya atas kesalahannya membunuh sahabatnya yang seekor burung rajawali.

Namun itulah yang mesti dibayar Genghis khan untuk memaknai sebuah tindakan, dan itulah rerata sikap manusia, kita baru sadar akan pentingnya sesuatu ketika sesuatu itu tak ada lagi dan pergi.

Melalui Genghis khan kita mencoba memaknai sejatinya arti sahabat.

***

Suatu pagi, sang pejuang Mongol, Genghis Khan, pergi berburu bersama para pengiringnya. Para pengiringnya membawa busur dan anak-anak panah, tetapi Genghis Khan membawa burung rajawali kesayangannya yang bertengger di lengannya; burung ini lebih dahsyat daripada anak-anak panah mana pun, sebab dia bisa terbang ke awan-awan dan melihat semua yang tak bisa dilihat mata manusia.

Akan tetapi rombongan itu tidak memperoleh hasi apa pun, meski mereka sudah berupaya keras. Dengan kecewa Genghis Khan kembali ke perkemahannya, dan supaya para pengiringnya tidak menjadi sasaran pelampiasan kekesalannya, dia pun meninggalkan mereka dan pergi berkuda seorang diri. Dia berkuda di hutan lebih lama dari pada yang diperkirakan, dan Genghis Khan merasa sangat letih dan haus. Dalam hawa terik musim panas, semua mata air telah kering dan dia tidak bisa menemukan air minum. Maka betapa herannya dia ketika melihat ada air menetes-netes dari bebatuan karang persis di hadapannya.

Genghis Khan
Ilustrasi

Dia pun melepaskan si burung rajawali dari lengannya dan mengeluarkan cangkir perak yang selalu dibawa-bawanya. Lama kemudian barulah cangkir itu terisi, namun ketika dia bermaksud mendekatkan cangkir itu ke bibirnya, si burung rajawali terbang mendekat, mematuk cangkir itu dari kedua tangannya, dan membuangnya ke tanah.

Genghis Khan sangat murka, tetapi burung rajawali adalah kesayangannya, dan barangkali burung itu pun merasa haus. Maka dipungutnya kembali cangkir itu, dibersihkannya dari tanah, dan diisinya lagi dengan air. Ketika cangkir itu masih setengah kosong, si burung rajawali lagi-lagi menyerangnya dan menumpahkan airnya.

Genghis Khan sangat menyayangi burung ini, tetapi dia tahu bahwa dalam situasi apa pun dia tidak boleh membiarkan perilaku tidak hormat semacam itu; kalau ada seseorang yang mengamati kejadian ini dari jauh, mungkin orang ini akan menceritakan kepada para prajuritnya bahwa sang penakluk yang hebat itu ternyata tidak mampu menjinakkan seekor burung sekalipun.

Maka kali ini Genghis Khan menghunus pedangnya, mengambil cangkir itu, dan mengisinya kembali, satu matanya tertuju pada air yang menetes-netes dan satunya lagi pada si burung rajawali. Setelah cangkirnya cukup banyak terisi air dan dia sudah siap meminumnya, si burung rajawali lagi-lagi melesat terbang ke arahnya. Dengan satu tusukan, pedang Genghis Khan menancap di dada burung itu.

Air sudah tidak menetes-netes lagi; Genghis Khan, yang kini bertekad untuk memuaskan dahaganya, mendaki bebatuan karang itu untuk mencari mata air tersebut. Betapa kagetnya dia ketika melihat bahwa memang benar ada genangan air di sana, dan di tengah-tengahnya tergeletak bangkai salah seekor ular paling berbisa di daerah tersebut. Seandainya tadi air itu diminumnya, dia pasti sudah mati.

Genghis Khan kembali ke perkemahannya dengan burung rajawali yang sudah mati itu dalam pelukannya. Dia memerintahkan supaya dibuatkan patung emas burung itu, dan di salah satu sayapnya dia mengukirkan kata-kata berikut ini:

“Saat seorang sahabat melakukan hal yang tidak berkenan di hatimu sekalipun, dia tetaplah sahabatmu.”

 

Dan di sayap satunya lagi, dia mengukirkan kata-kata berikut ini:

“Tindakan apa pun yang dilakukan dalam angkara murka hanya akan membuahkan kegagalan.”

 

Ku Suka Dangdut Ku Suka La Fildan

Suaranya bertempo lembut, tetapi ia tahu jalan tuk masuk menusuk tepat ke hati, berat namun halus. Itulah ciri khas suara seorang Fildan. Pria berasal dari Baubau ini bukanlah berdarah India, tapi ia memberi penanda bahwa ialah representatif pelantun lagu India di Indonesia.

***

Sepertinya musik dangdut telah kembali ke negrinya.

Kenapa? Beberapa dekade setelah pensiunnya Mansyur S, Meggi Z, Imam S. Arifin musik dangdut hanyalah tinggal lantunan tanpa makna, meski mungkin di improvisasi dengan aransement yang indah. Tetap saja tanpa makna. Goyangnya aja yang di dapat.

Padahal musik sebenarnya adalah salah satu tempat manusia kembali memaknai kediriannya, sebab musik adalah filsafat yang berima. Musik memberi warna untuk setiap kehidupan, tanpa musik dunia gelap seperti tanpa gemintang, seperti laut tanpa ombak, dan seperti hujan tanpa petir.

Dangdut sebenarnya telah dialienasi oleh pelantunnya sendiri, hanya saja saya tak mampu mewakilkan siapa pemulanya. Namun itu bisa dilihat dari ciri lantunannya, seperti ini: pinggul digoyang erotis, rambut di keramas mesra, busana seperti aih, dan suara tanpa cengkok-cengkok begitu-an deh.

Lalu kemudian muncul La Fildan ini, yang katanya dari Baubau.

Saya bilang, ini sebenarnya musik dangdut. Dan musik dangdut telah kembali hidup di negerinya. Indonesia bangat. La Fildan ini telah kembali membawa dangdut melalui petikan gitar dan suara merdunya.

fildan-iis
Fildan Baubau dan Iis Dahlia

Kiranya, tidak berlebihan jika saya gelari ia Pangeran Dangdut yang selama ini tak pernah ada yang menyandangnya (yang ngaku banyak). Cirinya kan sudah terlampir, mahir bergitar dan fasih berdangdut.

Juara atau tidak, La Fildan ini pasti menjadi Pangeran dangdut, meski hanya di hati kecilku dan mungkin di hati besar Iis Dahlia.

Trimakasih La Fildan, kau bangkitkan lagi hasrat berdangdut ku. Setelah lama tak pulang.

Da re ra, re ra….re ra……re ra…..

Belajar Cinta dari Awan

Kehidupan cinta sangatlah sulit di kisahkan, namun begitu; cinta dapat dimaknai oleh orang-orang yang betul mengerti akan cinta. Olehnya di tangan pencinta, cinta itu akan mendapat tempat yang indah dan kan hidup abadi.

Sang pencinta memaknai bahwa cinta adalah bentuk pengorbanan untuk meresapi sari pati cinta, itu sejatinya. Cinta dimaknai sebagai bentuk kepasrahan, dan tinggal di dalam keheningan. Di dalam keheningan itulah kita dapat menemukan cinta sesejatinya. Seperti kata Hafizh “Aku pikir kita datang, untuk berpasrah diri di dalam keheningan, untuk berserah pada cahaya dan kebahagiaan, untuk berdansa dalam batin dalam perayaan kejayaan cinta.”

Seperti itulah halnya cinta, hadir untuk sebuah pengorbanan. Alkisah, hiduplah awan muda di langit-langit eksotiknya benua afrika.

Suatu ketika, segumpal awan muda lahir di tengah badai dahsyat di atas Laut Tengah, namun dia tak sempat bertumbuh disana, sebab embusan angin kencang mendorong semua awan menuju Afrika.

Setibanya di benua itu, iklimnya berubah. Matahari bersinar terang di langit, dan di bawah mereka terbentang gurun pasir Sahara yang keemasan. Karena di padang gurun hampir tak pernah turun hujan, angin pun terus mendorong awan-awan itu ke arah hutan-hutan di selatan.

Sementara itu, sebagaimana manusia-manusia yang masih muda, awan muda itu memutuskan untuk meninggalkan orang tuanya serta teman-temannya yang lebih dewasa, sebab dia ingin menjelajahi dunia.

“Apa-apan ini?” angin berseru. “Gurun pasir itu sama saja di mana pun. Bergabunglah lagi dengan awan-awan lainnya, dan kita akan ke Afrika Tengah. Disana ada pegunungan dan pohon-pohon yang sungguh menakjubkan.”

Tetapi awan yang masih mudah itu mempunyai sifat pemberontak dan dia tidak mau menurut. Perlahan-lahan dia melayang semakin rendah dan semakin rendah, sampai akhirnya ditemukannya angin sepoi-sepoi yang lembut dan pemurah; angin itu membiarkannya melayang-layang di atas hamparan pasir keemasan. Setelah mondar-mandir ke sana-sini, dilihatnya salah satu bukit pasir itu tersenyum kepadanya.

Bukit pasir itu juga masih muda, baru saja terbentuk oleh angin yang bertiup melewatinya. Saat itu juga, awan itu jatuh cinta kepada rambut keemasan si bukit pasir.

“Selamat Pagi,” sapanya. “Seperti apa kehidupan di bawah sana?”

“Aku punya banyak teman bukit pasir lainnya, juga matahari dan angin, serta karavan-karavan yang sesekali melintas di sini. Kadang-kadang hawanya panas sekali, tapi masih bisa kutahankan. Seperti apa hidupmu di atas sana?”

“Disini juga ada matahari dan angin, tetapi yang menyenangkan adalah aku bisa bepergian di langit dan melihat lebih banyak.”

“Buatku, hidup ini singkat saja,” kata si bukit pasir. “Begitu angin datang lagi dari arah hutan, aku akan lenyap.”

“Apakah kau menjadi sedih?”

“Aku jadi merasa hidupku tak punya tujuan.”

“Aku juga merasa begitu. Begitu angin berhembus kembali aku akan pergi ke selatan dan diubah menjadi hujan; tetapi itu sudah suratan takdirku.”

Setelah bimbang sesaat, bukit pasir itu berujar, “Tahukah kau bahwa di padang gurun ini kami menyebut hujan sebagai surga?”

“Tak kusangka diriku bisa sepenting itu,” kata si awan dengan bangga.

“Aku pernah mendengar bukit-bukit pasir yang lebih tua menceritakan berbagai kisah tentang hujan. Kata mereka, setelah turun hujan, kami semua tertutup rerumputan dan bunga-bunga. Tapi aku tidak akan pernah mengalaminya, sebab di padang gurun jarang sekali turun hujan.”

Sekarang giliran si awan yang menjadi bimbang. Kemudian dia tersenyum lebar dan berkata, “kalau kau mau aku bisa menurunkan hujan ke atasmu sekarang juga. Memang, aku baru saja sampai di sini, tapi aku mencintaimu, dan aku ingin tetap di sini selamanya.”

“Waktu aku pertama melihatmu di langit sana, aku juga jatuh cinta padamu,” sahut si bukit pasir. “Tetapi jika kau ubah rambut putihmu yang indah itu menjadi hujan, kau akan mati.”

“Cinta tak pernah mati,” sahut awan itu. “Cinta membawa perubahan; selain itu, aku ingin menjunjukkan surga padamu.”

Dan dia pun mulai membelai bukit pasir itu dengan tetes-tetes kecil air hujan, supaya mereka bisa lebih lama bersama-sama, sampai muncul sebentuk bianglala.

Keesekon harinya, bukit pasir yang kecil itu dipenuhi bebungaan. Awan-awan lain yang melintas untuk menuju Afrika, mengira itu pastilah bagian dari hutan yang mereka cari-cari, maka mereka pun menebarkan lebih banyak hujan. Dua puluh tahun kemudian, bukit pasir itu telah berubah menjadi oase yang memberikan kesegaran kepada para musafir dengan keteduhan pohon-pohonnya.

Dan semua itu karena suatu hari sepotong awan jatuh cinta, dan tidak takut menyerahkan hidupnya demi cintanya.

 

 

Wanita Yang Berbisik

Saya baru saja menemukan seorang wanita, yang berjam-jam menahanku bercerita hanya untuk menceritakan kejelekan-kejelekan orang-orang disekitarku.

Saya tidak mengerti, saya bukanlah seorang pemegang kuasa yang mesti dicuri hatinya, atau pula seorang bijak untuk diambil petuahnya. Toh, dari hasil curhat itu saya tidak bisa me-non-job seseorang, apa lagi bisa membawa orang menuju Surga apabila menjalankan petuahku.

Sebut saja namanya A, mulailah ia menceritakan si B,C,D, E, lalu kembali lagi ke D. Sepanjang itu jika saya statistikkan modusnya adalah menceritai si C, dan mediannya adalah si E. Modus dalam statistika adalah kasus yang sering muncul, dan median itu rerata dari deretan peristiwanya.

Si B hingga E, paripurna dikupasnya. Hingga akhirnya saya terpaksa meninggalkannya karena sesuatu dan lain hal.

***

Waktu saya dibangku SMA, saya pernah memahami ‘Golden Rule’ atau aturan emas, yang poinnya perlakukanlah orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan oleh mereka.

Hukum itu menjelaskan, jika saat ini kita menceritai seseorang, kemungkinan besar dia juga sedang menceritakan kita. Semua tindakan kita, yang baik dan buruk, akan kembali kepada kita.

Ini juga sejalan dari hukum ketiga dari gerak dalam fisika murni, untuk setiap aksi, terdapat reaksi yang setara dan sebaliknya. Hukum aksi reaksi tepatnya. Semesta akan membalikkan sebesar dan sekecil apapun energi yang kita berikan.

Selain itu, hal ini juga menjadi esensi dari ‘Karma’ yang diyakini dalam filsafat transcendental. Segalanya kan berpulang kepada kita.

***

Saya belum sempat berkata kepadanya tetapi semoga saja dia membaca tulisan ini.

Berbaiklah pada diri sendiri juga orang lain, Perhatikanlah bahwa cinta dan benci itu berbalas. Hukum ini bekerja dengan jelas dan pasti seperti halnya bumi mengelilingi matahari. Terlepas dari anda menyadarinya atau tidak. Hukum itu berjalan dalam hal-hal kecil, besar, hingga perihal yang paling besar.

<img src="http://path-mkgapi.kakao.com/dn/path_classic/moment_photos/e358d410-1582-4cab-8a7f-440604b61e87/original.jpg" />
Tiga warsa yang lalu, saya duduk bersama mereka. 

Saat itu, dari kiri ke kanan adalah Ketua Umum PB HMI Puji Hartoyo, Abu Hasan, Kepala Biro Humas Setda Provinsi Sulawesi Tenggara, Abdullah Hehamahua, Penasehat KPK, dan terakhir saya sendiri sebagai manusia biasa.

Saat ini di warsa 2017 posisi itu berubah Puji Hartoyo menjadi Staf Ahli Setya Novato Ketua DPR RI sesudah menjadi komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Abu Hassan menjadi Bupati Buton Utara, Abdullah Hehamahua menjadi tim Penasehat hukum Jokowi JK, dan terakhir saya juga masih seperti ini.

Waktu berubah, manusia berubah, kita hanya mengikuti arah angin disamping selalu menyiapkan bekal abadi.

Mungkin, waktu berikutnya kan menanti. Entahlah!
View on Path